Membaca berbagai kontrovesi yang menyertai produksi film Gending Sriwijaya, membuat saya terusik sendiri. Lewat sejumlah media, sejumlah orang yang mengaku sejarawan mempermasalahkan aspek-aspek kesejarahan dalam film yang disutradari Hanung Bramantyo tersebut. Bahkan seorang ketua yayasan pasang leher untuk menentangnya.
Bagi saya, kekonyolan-kekonyolan seperti ini sesungguhnya tak perlu terjadi. Sebagai orang yang pernah terlibat dalam proyek film sejarah, friksi-friksi demikian sesungguhnya lumrah. Saya tak menampik jika masalah yang ada kadang muncul karena factor-faktor lain di luar materi film itu sendiri. Di atas permukaan yang terlihat memang masalah teknis, namun dibalik itu seperti ada masalah lain yang tabu dibicarakan. Film yang didanai APBD memang riskan memancing masalah. Akan banyak pihak ceriwis dan melakukan pressure tertentu ketika tak dilibatkan pada proyek semacam ini.
Oke lupakan tentang kemungkinan diatas karena itu bukan fokus tulisan saya ini.
Karya Seni Berlatar Belakang Sejarah
Cerita berlatar belakang sejarah di Indonesia telah diproduksi bak air mengalir. Tertuang dalam bentuk komik, novel, sandiwara radio, layar lebar, hingga sinetron televisi. Ada yang dibarengi kontroversi, adapula yang adem-adem saja meski menyimpang jauh dan lebih menjual seks (baca Film Ken Arok Ken Dedes ). Semasa kecil saya setia mendengarkan sandiwara radio Saur Sepuh, semasa remaja saya pecandu novel sejarah ala SH Mintardja. Keduanya adalah karya seni yang luar biasa mempengaruhi masyarakat kala itu, sehingga anak-anak menjadi tahu atau minimalnya mendengar tentang sejarah bangsanya sendiri. Masalah benar tidaknya informasi sejarah yang di dapat, itu adalah tuntutan di kemudian hari saat mereka dewasa dan bisa melakukan penelusuran sendiri.
Di era Black Berry dan Android seperti sekarang ini, hampir dikatakan tak ada film atau karya seni yang bisa mempengaruhi orang untuk membaca ulang sejarah bangsanya kembali. Hal tersebut tentu menjadi satu duri besar bagi bangsa yang pernah menjadi super power asia ini . Tentu kita tak ingin menjadi bangsa yang kehilangan nasionalismenya, kehilangan kebhinekaannya, kehilangan keragamannya. Hancur oleh paham-paham susupan yang cenderung radikal atau liberal. Hadirnya film berbumbu sejarah seperti Gending Sriwjaya, merupakan pengingat bahwa sebagai sebuah bangsa, kita punya jati diri asli yang tak bisa dilupakan begitu saja.
Membuat film berlatar belakang sejarah memang tidak mudah . Akan ada riset maupun penelusuran-penelusuran yang bukan hanya membongkar buku, daun lontar, kepingan atau pupuh semata tetapi juga memperhatikan slentingan, tutur, foklor , mitologi (atau apalah namanya) meski kadang hal tersebut sulit dibuktikan. Sejarah lisan yang diceritakan turun menurun, tak bisa ditinggalkan karena keberadaan mereka mengiringi sejarah itu sendiri.
Memang harus diakui akan sulit menarik garis yang sama antara cerita lisan dan bukti sejarah. Namun juga sebaliknya sangat dimungkinkan keduanya beriringan ketika penemuan terbaru muncul memperkuat kelisanan tadi. Di dalam membuat film (juga karya seni), nilai cerita sekecil apapun bebas dieksplorasi. Dia adalah lobang kecil yang jika digali menjadi sebuah sumur raksasa. Tapi itu masalah pilihan. Banyak yang sekuat tenaga menyetiai alur bukti sejarah (yang kebetulan datar) dengan segala resikonya (misalkan filmnya menjadi lurus-lurus saja seperti video kawinan – biasa terdapat dalam film dokumenter) atau menyelipkan suatu cerita lisan yang dianggap bisa menghidupkan focus utama menjadi lebih dinamis, juga dengan segala resikonya ( digugat orang yang menganggap paling paham sejarah – biasa terdapat dalam film cerita).
Film cerita, jelas dan sangat tegas memiliki perbedaan yang mencolok dengan film documenter. Maka , jika melihat ekspos poster maupun berita yang ada, rasanya kita tak perlu sok tidak tahu film jenis apa yang sedang digarap Hanung. Dalam versi sutradara progresif ini, pengisahan kerajaan Sriwijaya sudah jelas menggunakan genre film cerita sebagai dimensi proyeksi. Artinya, adalah sah ketika terjadi intervensi fiksi. Penolakan yang timbul, rasanya tak perlu digubris dan cukup di iyakan saja.
Pun bukti-bukti sejarah yang ditemukan, meski sama-sama dianggap sahih, hampir dipastikan masing-masing punya perbedaan. Sang pendokumentasi punya sudut pandang sendiri. Tengok saja KItab Pararaton dan Nagarakertagama. Atau tidak perlu jauh-jauh. Lihat saja berita TV One dan Metro TV. Mereka punya perbedaan yang mencolok ketika mengabarkan sebuah peristiwa yang sesungguhnya sama (apalagi berita masalah Lapindo).
Mendudukkan pada porsinya
Di luar sana pernah lahir film Gladiator. Dirilis tahun 2000, di bintangi Russell Crowe dan Oscar menempatkannya sebagai Aktor Terbaik. Selain itu festival berkualitas ini juga mengganjar 4 mahkota lainnya yakni effect visual, sound, desain kostum dan film terbaik. Selain sukses sebagai karya seni, Gladiator juga meraup nilai komersial yang fantastis . Tercatat angka $187,705,427 diperoleh hanya dari dalam negeri saja, sementara total $457,640,427 hanya dari pemutaran bioskop, belum termasuk produk lain seperti VCD/DVD atau versi lainnya.
Kejayaan Ridley Scott sebagai dalang yang mengantar film Gladiator sebagai penjajah Oscar , tak bisa dilepaskan dari hiruk pikuk para sejarawan. Mereka menganggap film ini telah merusak sejarah Romawi. Menghancurkan struktur kisah yang telah dijalin secara rajin lewat bukti-bukti temuan. Hebatnya lagi, film ini telah membuat racun paling dahsyat di kalangan generasi baru karena menganggap tokoh Jenderal Maximus Decimus Meridius benar-benar ada. (Pengungkapan tokoh ini pernah saya lacak dan anda bisa baca tulisan tersebut DISINI).
Namun bagi saya pribadi, Gladiator telah berhasil menyelesaikan misi tak terlihat dari film itu sendiri, yakni membangkitkan rasa ingin tahu sejarah. Membuat eforia dikalangan muda untuk mau belajar sejarah dan mengetahui lebih jauh. Menelusuri, menganalisa bahkan kalau perlu, membuktikan ! Berdasarkan statistic dashboard, artikel pengungkapan Maximus yang saya tulis, hingga detik ini masih banyak dikunjungi orang. Asumsi saya, hingga saat ini masih banyak orang yang ingin mengetahui lebih jauh tentang keberadaan Maximus.
JIka dikaitkan dengan Gending Sriwijaya, rasanya Hanung tak se-ekstreem Ridley Scott dalam mengacak-acak sejarah. Hanung masih menyetiai garis sejarah. Dia hanya memperindah filmnya karena berpijak pada dua sisi. Sisi sejarah dan sisi estetika.
Memperhatikan uraian saya diatas, rasanya sangat naïf menggugat Gending Sriwijaya dan menganggapnya tidak sesuai dengan sejarah. Ini film cerita, bukan film documenter. Ini karya seni, bukan semata-mata sejarah. Ini tentang sudut pandang “menonton” Gending Sriwijaya.
Adem ayemnya masyarakat saat mendengarkan cerita Saur Sepuh atau membaca novel-novel SH Mintardja di tahun 80-90 an, sesungguhnya karena adanya tingkat kecerdasan yang tinggi dimana masyarakat mampu membedakan karya seni dengan otentifikasi sejarah. Bukankah menjelang 2013 harusnya kecerdasan masyarakat lebih meningkat dan bukan malah terbelakang ? .
Marilah kita menyadari dari mana kita memandang. Marilah mendudukkan sesuatu pada porsinya. Namun yang paling bijak sepertinya adalah , “ marilah menonton film, bukan menonton sejarah.”
______________________________
D. Dhewanindra
Kontributor areapager.com
Penyuka Sejarah dan Kebudayaan
Kini tinggal di Depok, Jawa Barat
______________________________




