TONTON DI YOUTUBE













Hal Ikhwal Kegaiban ( Bag 1 )

Aku adalah orang Jawa. Dan sebagai manusia Jawa yang tumbuh dalam atmosfir Jawa, aku mengerti dan secara langsung maupun tak langsung mempelajari perihal kegaiban sejak masih kanak. Nama-nama seperti gendruwo,wewe, sundel bolong, bujungan (pocong), kesurupan, kelebon, demit dan aneka macam istilah lainnya kuserap sejak keci berseiring aku mempelajari segala sesuatu mengenai dunia. Kemengertian dan pengetahuan itu bukan suatu keistimewaan melainkan hal biasa karena kebanyakan orang Indonesia pada umumnya pula sedikit banyak sama denganku, mengenal adanya dimensi lain dalam kehidupan ini sejak awal-awal hidupnya.

Mempelajari yang kumaksud adalah dalam arti menjadi mengerti, menjadi manusia yang sadar untuk kemudian sedikit banyak meyakini akan hal-hal mistik dan pelbagai fenomena lainnya yang ora tinemu nalar (tidak masuk akal). Cornelis van Vollenhoven, ahli mengenai masyarakat adat dari Leiden pernah mengatakan bahwa karakteristik manusia Indonesia adalah magis-religius. Keagamaan dan kemagis-an adalah bagian hidup sehari-hari bangsa nusantara ini.  Walau sudah berpendidikan tinggi, walau dibesarkan di era Facebook,Twitter dan iPad tetap saja orang Indonesia merasa takut pula melewati kuburan, bepergian malam, melewati daerah-daerah tertentu seperti jembatan dan pohon besar, memasuki rumah tua, suatu rasa takut yang disebabkan bukan karena sunyi dan gelap itu sendiri, akan tetapi takut akan hantu, setan, dan sebangsanya. Aku sendiri tidak menguasai ilmu gaib dalam arti mampu melihat mahluk halus atau aneka macam kekuatan supranatural lainnya. Aku, malahan berkecenderungan untuk menjadi penakut soal ini.

Kembali pada kegaiban, pengetahuan berkaitan dengan persoalan ini kudapat dari banyak sumber dalam perjalanan waktu hidupku. Mendengarkan kisah dari orang, kawan, sanak keluarga, atau isteriku sendiri adalah sumber pengetahuan yang utama. Menginap di rumah kawanku di Parung Bogor November tahun lalu misalnya, ia menceritakan bahwa tak ada kawannya yang betah tidur di kamarku tidur malam itu karena terganggu oleh suara suara aneh. Memasuki sebuah kamar kawanku yang lain ketika aku SMA, aku diberitahu akan adanya penunggu di kamarnya, mahluk halus dari golongan jin. Di kampung isteriku di Soropadan, Temanggung ada suatu bukit yang dipercaya berpenghuni mahluk lain. Di bukit itu konon pernah ada seorang tentara yang hilang ketika tengah berlatih (berlatih apa aku tak tahu, mungkin juga tak sepenuhnya benar akibat deviasi informasi), dan mayatnya baru ditemukan di daerah Kali Bening, sekitar lima kilometer dari desa itu. Konon, di bukit yang terletak di desa isteriku itu terdapat sungai bawah tanah yang dipercaya orang muncul bermata air di Kali Bening.  Kolam renang Kali Bening yang masuk dalam wilayah Payaman, Magelang itu juga memiliki kisah angkernya tersendiri. Alkisah, ada orang yang tenggelam akan tetapi mayatnya tak dapat ditemukan. Setelah sekian lama dicari, barulah orang menjumpai jasadnya di saluran pembuangan yang berada di luar kolam renang. Sudah tentu hal itu membuat orang bertanya: bagaimana si mayat bisa berada di luar kolam tanpa harus lebih dahulu keluar dari kolam, sedangkan saluran pembuangan kolam hanyalah lubang yang tak besar? Apapun jawabannya, demi mendengar kisah itupun aku berhati-hati jika berenang di sana. Berhati-hati, karena aku tak mau jadi korban seperti itu. Berhati-hati, karena aku mempercayai akan kebenaran kisah itu.

Dan 2010 lalu ketika bersama Theo, kawanku dari Belanda mengunjungi kawah Dieng, Wonosobo, menjadi gentarlah hati ini demi mendengar kisah dari penjual kopi panas dan aneka gorengan yang menggelar dagangannya di sekitar kawah. Entah siapa yang mulai menanyakan, tapi perempuan tua penjual gorengan  itu berkisah bahwa kalau orang melihat binatang di daerah itu semisal kelinci atau kambing (atau mungkin juga binatang lainnya), maka itu berarti kematian telah mendekatinya.Hal ini karena di daerah kawah Sikidang itu tak ada binatang-binatang itu dalam kenyataannya.  Sudah tentu tidak ada data statistik soal itu, namun masyarakat mempercayai kisah itu dari berbagai peristiwa yang telah terjadi. Dan karena kisah itu, sepanjang perjalanan pulang mataku hanya memandang ke lantai mobil sambil mengalihkan perhatian dengan turut berbincang dan tertawa-tawa dengan kawan seperjalanan, bincang dan tawa yang kuingat benar tak mampu sungguh-sungguh menghilangkan rasa takut di hati. Aku tak mau sampai mataku melihat binatang di ladang penduduk. Aku tak mau melihat tanda kematian itu. Dan ketika mobil sudah memasuki daerah yang lebih landai, yang sudah jauh dari daerah kawah barulah aku berani melihat pemandangan di luar.

Kisah lain lagi? Ketika aku kecil, akrablah aku dengan salah satu  pegawai tata usaha di SMA tempat Bapak bertugas sebagai kepala sekolah. Ia, buatku adalah perempuan yang menyenangkan dan sering menyapa dan mengajakku bergurau. Aku lupa namanya tapi seingatku wajah dan penampilannya cukup lumayan. Suatu hari aku mendengar kabar yang mengagetkan itu: kematiannya. Mati bukan karena sakit, melainkan karena bunuh diri dengan cara menggantung diri di rumahnya. Ini kuketahui agak lama setelah ia dimakamkan. Yang pasti aku ikut datang ke rumah duka bersama Bapak dan mengantar sampai ke kuburan, akan tetapi penyebab kematiannya baru aku ketahui agak berapa lama setelah ia mulai dilupakan: ia hamil, dan si pacar tak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Cukup menjadi rahasia umum di lingkungan karyawan sekolah, bahwa arwahnya sering terlihat berdiri di sekitar ruang tata usaha sekolah. Dan pada umumnya, orang percaya kalau mereka yang mati dengan cara-cara tidak wajar biasanya akan sukar menemukan jalan ke keabadian. Arwah penasaran, roh gentayangan.

Pengetahuan dan aneka kisah soal kegaiban, dunia misteri, alam halus juga banyak kudengar dari para tamu Bapakku, para kasepuhan [orang tua, paranormal] .  Saat mereka datang ke rumah kami dan mengobrol di teras rumah dinas kami, aku yang masih kecil menyerap banyak informasi dari pembicaraan mereka. Mereka yang datang adalah tiga sekawan "orang pintar", begitu orang merujuk pada orang yang memiliki kemampuan indra ke-enam yang berkaitan dengan kegaiban. Sudah tentu, kedatangan mereka tidak semata membicarakan hal-hal itu. Mereka juga berbincang soal politik dan tentu saja pendidikan. Dua diantara mereka adalah guru sekolah menengah, sama dengan Bapak. Hanya satu yang bukan.

Bersambung ke Hal Ikhwal Kegaiban ( Bag 2)


_____________________________________

Manunggal K Wardaya
PhD Researcher Radboud University Nijmegen
Kolektor dan Pemerhati Musik Indonesia
Kini tinggal di Nijmegen, Belanda
manunggal.wardaya@gmail.com
_____________________________________


Photo : Makam tua di Les Landes, France