Sambungan dari SINITelevisi, film, berbagai kisah keagaman serta aneka macam sumber lainnya menjadikan perihal kegaiban, mistik, dan lain-lain dunia mahluk halus yang tak terlihat adalah bagian dari hidupku, walau aku sendiri tak pernah tahu seperti apa rupanya hantu, setan, dan lain-lain yang tak terlihat itu. Ketika aku masih SD, ada aku dengar sandiwara radio yang aku lupa judulnya, akan tetapi berkisah soal arwah penasaran: seorang ibu yang dipenggal kepalanya oleh anaknya sendiri bernama Trinil. Kepalanya itu, kalaulah tak salah ingat dipendam di bawah tempat tidur, dan arwah si ibu memanggil-manggil "trinil, balekno gembungku trinil...balekno...balekno ya nduk ya" (Trinil, kembalikan perutku, kembalikan ya nak ya). Lain lagi? Ketika aku SMA dan mahasiswa, aku sering membaca aneka kisah gaib dari majalah Liberty yang ada di rumah nenek. Kakak iparku di Jakarta berlangganan majalah Misteri, majalah khusus supranatural yang juga banyak kubacai ketika aku remaja dan beranjak dewasa. Keluarga kami berlangganan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, sebuah majalah terbitan Surabaya. Salah satu rubrik yang kuminati semasa ku kecil adalah Alaming Lelembut (Alam Lembut, alam gaib). Berbagai kisah misteri, seram diceritakan di sana dengan menarik, tentu dalam bahasa Jawa. Ada yang terkesan dibuat-buat, tapi banyak pula yang membuatku sukar menolak untuk tak percaya.
Pernah aku sakit, dan dipercaya karena aku diganggu oleh makhluk halus yang juga berrnama sama denganku. Sang penyembuh, yang tak lain adalah bekas guru dimana Bapakku pernah menjadi kepala sekolah di Purbalingga paruh akhir 1970-an mengatakan hal itu. Lebih dari sepuluh tahun sebelum tulisan ini kutulis, rumah kami tiba tiba didatangi oleh warga kampung yang tak jauh dari kompleks pemukiman dimana aku tinggal di Berkoh, Purwokerto. Mereka berteriak teriak sambil membunyikan kentongan dan menyalakan obor. Itu terjadi sekitar pukul tiga dinihari, membuat kami penghuni rumah menjadi kaget dan bertanya-tanya. Ternyata mereka sedang mencari seorang anak kampung yang hilang karena dilarikan oleh wewe, hantu perempuan yang dipercaya suka membawa kabur anak manusia dan dibawa ke pepohonan tinggi. Menurut terawangan tokoh masyarakat, si anak itu dibawa oleh si wewe ke rumpunan pohon bambu di kebun rumah kami yang memanglah luas. Perihal rumah kami yang luas, rimbun dipenuhi pepohonan sendiri banyakklah cerita yang bisa dituliskan. Antara lain adalah kisah beberapa orang tamu, kenalan, kerabat yang mengaku melihat penampakan mahluk halus dalam aneka bentuknya di rumah kami. Aku sendiri, tak pernah melihatnya. Tapi kalaulah mereka memang ada, aku kira mereka tak akan menggangguku. Mereka hidup dengan kami.
Seperti tadi telah kutulis, hal-hal soal arwah, demit, setan dan lain-lainnya cukup kerap kudengar dari Bapak dan kawan-kawannya. Bapakku sendiri adalah orang Jawa dengan kepercayaan akan kegaiban yang amat besar. Ia lebih kepada penganut kepercayaan terhadap Tuhan, dan bukan agama modern, walau di berbagai dokumen ia tertulis sebagai Islam. Dari kisahnya pada kami anak-anaknya, ia cukup sering melihat hal-hal aneh untuk ukuran nalar normal seperti itu. Satu ceritanya yang kuingat adalah betapa ia merasa penasaran demi mendengar adanya makhluk halus berjenis raksasa yang konon menjadi penghuni SMA Negeri Purbalingga. Mungkin kala itu ia baru saja ditugaskan di sana setelah sebelumnya hanya menjadi guru biasa di Solo. Bapakku, entah dalam hati entah terucap secara lisan seakan menantang agar sang raksasa keluar agar ia benar benar percaya keberadaannya. Dan memang benar setelah hal itu terucap (entah dalam hati atau mulut Bapak) muncullah dengan sekonyong-konyong sosok mahluk super besar yang melangkahi gedung sekolah. Teramat besar hingga Bapak merasa ketakutan. Kisah lainnya adalah ketika ia kerap bepergian pulang pergi Purwokerto-Semarang. Dalam suatu perjalanan pulang, ia merasakan dikuntit oleh seorang perempuan yang cantik, hingga ke rumah. Ketika itu dikonsultasikan pada kawannya seorang paranormal, diketahui bahwa sang putri cantik itu adalah ratu makhluk halus di jalanan Sokaraja.
Kisah lain? Bapak mengalami kecelakaan bersama kawannya di jalan raya Sokaraja. Peristiwa itu terjadi ketika kami belum pindah ke Purwokerto, sehingga kira-kira terjadi sebelum tahun 1982. Mobil yang ditumpangi bersama koleganya, bekas kepala sekolah yang digantikannya menabrak pohon dengan kencang. Penyebabnya, adalah karena sang pengemudi yang tak lain adalah putra teman Bapak itu hendak mengambil sandal sambil terus mengemudi. Konon karena satu dan lain hal, ia salah menginjak gas dan salah satu pohon besar di Sokaraja itu dihantamnya. Bapak luka-luka, dan kawannya meninggal dunia seketika karena terjepit. Di Rumah Sakit Umum Purwokerto (masih terbayang dalam ingatanku rupa gedungnya yang kini telah tiada itu), ia melihat kawannya itu terbang melayang dengan rupa seperti monyet. Setelah ditanyakan pada sahabatnya yang lain yang mengerti hal kegaiban, dikatakan bahwa hal itu karena teman bapak yang meninggal itu pernah punya perjanjian keramat dengan para penunggu Gunung Kawi. Gunung Kawi, dalam kepercayaan masyarakat Jawa sudah dikenal sebagai tempat orang melakukan perjanjian keramat, pesugihan, dan lain-lain yang berkaitan dengan dunia lain.


