Pada bahasan sebelumnya saya telah menulis tentang sedikit sejarah keris, juga tentang sebuah keris lain yang cukup populer, yakni Keris Empu Gandring, mulai sejak proses produksi awal hingga masa kelenyapannya di daerah Katang Lumbang berbarengan dengan tewasnya Tohjaya.
Lalu keris apa sebenarnya yang bisa melebihi kemampuan fisik dan spiritual keris Empu Gandring ? Sekali lagi ini hanya hasil prediksi setelah melihat dan membandingkannya dengan POINT-KERIS EMPU GANDRING Anda boleh setuju tapi boleh saja tidak. Diskusi mengenai keris legenda sepertinya memang sulit berujung. Tapi inilah keris sakti yang lahir di masa Majapahit itu versi saya.
latar belakang penciptaan.
Perkembangan Majapahit menjadi sebuah kerajaan yang adikuasa dan super power, menjadikan pusat pemerintahan sebagai magnet dan daya tarik tersendiri bagi kaum urban. Apalagi kalau bukan untuk mengadu nasib.
Sebagai sebuah daerah yang mempertemukan berbagai elemen kerajaan dari pelosok wilayah nusantara, baik secara social, budaya, ekonomi maupun politik, tentu tidak lepas dari sejumlah permasalahan di tingkat arus bawah. Di tingkat pejabat pun sering sekali terjadi friksi yang bisa berujung pada pemberontakan seperti masa-masa kelam era Jayanegara. Kala itu, para Jenderal yang tergabung dalam Dewan Dharma Putra justru memberontak satu persatu dan terus menerus, bahkan hampir saja menumbangkan pemerintahan yang sah kalau saja seorang perwira menengah dari kompi kawal Bhayangkara bernama Dipa ( kelak bernama Gajah Mada), tidak berusaha mengembalikan raja ke tahta.
Meski akhirnya Jayanegara berhasil kembali ke tahta, raja muda ini malah mati di kamar sendiri akibat di bunuh oleh dokter pribadi bernama Ra Tanca.
Kematian Jayanegara menandai Orde Lama telah berakhir. Tribhuwana Wijaya Tunggadewi yang menggantikan kakak tirinya, menunjuk Dipa sebagai Rakryan Patih Majapahit pada tahun 1334. Sejak saat itu juga Dipa menggunakan nama Gajah Mada.
Meski perempuan, Tribhuwana nampak piawai dalam memimpin dan mengembangkan pemerintahan. Terbukti wilayah Majapahit menjadi sangat luas secara geografis. Gajah Mada sendiri juga terus menerus membuktikan Sumpah Palapanya untuk mewujudkan suatu wilayah yang kemudian di sebut Nusantara.
Konsentrasi Tribhuwana pada pengembangan wilayah politik ini secara otomatis juga berimbas pada perkembangan dunia kemiliteran. Majapahit banyak menetaskan para pakar senjata yang kemudian melakukan berbagai eksperiment persenjataan. Keris adalah salah satu obyeknya. Dimana-mana terjadi eforia keris. Bukan hanya para prajurit, orang awampun selalu membawa keris kemanapun mereka pergi (walaupun dalam upacara pernikahan - agaknya hal ini kelak menjadi tradisi orang jawa).
Saking luar biasanya trend ini, seorang anggota ekspedisi Cheng Ho, yang bernama Ma Huan membuat catatan di tahun 1416 tentang kebiasaan orang-orang Majapahit yang kemanapun pergi selalu membawa pu-la-t'ou (keris) dan diselipkan pada ikat pinggang.
Seiring dengan perkembangan di berbagai lini, mereka yang tak dapat mengikuti pesatnya kemajuan seperti tertinggalkan. Terjadi jenjang yang cukup lebar di Majapahit antara kaum jelata dengan kaum pengusaha maupun birokrat. Sejumlah gesekan terjadi di tingkat bawah maupun atas. Maka, untuk mengatasi hal ini, tercetuslah gagasan rekonsiliasi nasional guna menghalangi terulangnya sejarah pemberontakan seperti era orde lama ( Era Jayanegara).
DPR / MPR kemudian merumuskan suatu keputusan yang cukup fenomenal dalam asas gotong royong , yakni menciptakan sekaligus meluhurkan sebuah simbol persatuan kesatuan secara fisik maupun spiritual. Di wujudkan dalam bentuk keris yang dinamakan “ Keris Condong Campur “
Proses Produksi
100 orang pakar keris dan pakar spiritual berkumpul di pusat pemerintahan untuk melakukan konsolidasi membuat master plan. (bandingkan dengan keris empu Gandring yang hanya dikerjakan satu orang) Dalam diskusi yang panjang nan melelahkan, akhirnya berhasil diambil keputusan tentang bentuk dan elemen-elemen yang digunakan.
Mengacu pada wikipedia.org berikut ini keterangan kerisnya :
Keris ini merupakan salah satu dapur keris lurus. Panjang bilahnya sedang dengan kembang kacang, satu lambe gajah, satu sogokan di depan dan ukuran panjangnya sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada. Selain itu, keris ini juga menggunakan gusen dan lis-lis-an.
Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.
Sayangnya, dalam proses produksi, tetap saja tidak terjadi titik temu. Masing-masing ahli saling menonjolkan kemampuannya sendiri sehingga dikabarkan, tuah dalam keris banyak berisi kegaiban buruk. Kekuatan spiritual yang ditanamkan saling berbenturan dan mengakibatkan keris Condong Campur memiliki watak mengerikan namun berkekuatan dahsyat.
Lenyapnya Keris
Meski telah berwujud, perseteruan panjang masih terus berlanjut diantara 100 empu tersebut. Perpecahan kembali terjadi. Masing-masing golongan menciptakan keris tandingan yang tujuannya adalah untuk menghancurkan Keris Condong Campur.
Keris tandingan pertama di beri nama “Sabuk Inten”, yang artinya Ikat Pinggang Permata. Produksi keris ini di dukung oleh kalangan bisnisman dan pejabat tinggi. Keris dari golongan kedua diberi nama “Sengkelat “ yang artinya “ Sengkel Atine ( Jengkel Hatinya ) “. Produksi keris Sengkelat di dukung oleh kaum anti kemapanan yang terpinggirkan.
Konon, suatu malam Keris Sabuk Inten di lepaskan untuk mengadu kesaktian dengan Keris Condong Campur. Dua tuah sakti berikut para pengikut gaibnya bertempur di udara dengan gegap gempita. Bumi bergetar dan langit penuh cahaya. Pertempuran gaib ini dimenangkan oleh Condong Campur, sementara Sabuk Inten menyelamatkan diri dengan bersembunyi pada kedalaman bumi.
Pada malam yang lain, ganti Sengkelat yang diluncurkan menghantam kedudukan Condong Campur. Kekalahan Sabuk Inten rupanya menjadi pelajaran bagi operator Sengkelat untuk memperkuat kesaktian keris tersebut. Dukungan berduyun-duyun secara spiritual dari kalangan arus bawah membuat Sengkelat berhasil memukul mundur posisi pertahanan Condong Campur. Keris itupun melarikan diri bersembunyi di antara galaksi jagad raya. Sebelum kabur, Condong Campur sempat membuat ikrar, bahwa dirinya akan datang kembali ke bumi pada masa 500 tahun ke depan untuk membuat bencana dan parade kematian.
Catatan Gambar :
Relief di Candi Sukuh yang menggambarkan seorang Empu membuat Keris


