TONTON DI YOUTUBE













Menggugat Iklan Promosi Daerah Menjelang Pilkada

Trend para pemimpin incumbent melakukan promosi daerah lewat iklan di televisi, makin gencar dewasa ini. It's oke itu dilakukan. Namun yang menjadi masalah adalah karena hal tersebut justru dilaksanakan menjelang gegap gempita Pilkada. Satu hal yang sesungguhnya mereka sadari betul bahwa itu tindakan konyol. Namun niat berkuasa sepertinya telah mematikan kesadaran itu, sehingga lahirlah apa yang disebut "Kampanye Terselubung ".

Apa itu kampanye terselubung ?

Kampanye merupakan tindakan yang bersifat doktrin atau pencitraan yang bisa dilakukan secara perorangan atau kelompok terorganisir dengan tujuan mempengaruhi, menghambat, membelokkan pilihan atau mencapai dukungan atas suatu kebijakan pilih. Biasanya, kampanye politis mengacu pada kampanye elektoral, pencapaian dukungan di mana wakil terpilih atau referenda diputuskan. Mengutip wikipedia.org, kampanye umumnya dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara, simbol-2. Pada sistem politik totaliter - otoliter kampanye sering dan biasa dilakukan ke dalam bentuk tindakan teror, intimidasi, propaganda atau dakwah. Kampanye dapat juga dilakukan melalui internet.untuk sebuah rekayasa pencitraan yang kemudian berkembang menjadi upaya persamaan pengenalan sebuah gagasan atau isu kepada suatu kelompok tertentu yang diharapkan mendapatkan feedback / timbal balik / tanggapan.

Pengertian terselubung, dalam identifikasi saya berarti "samar-samar."  Antar iya dan tidak. Penuh maksud tapi tidak berusaha menonjolkan maksud utama. Tujuannya tentu saja untuk mengambil langkah aman karena maksud utama sesungguhnya dilarang keras.

Maka, arti kampanye terselubung jika kita melihat dua pengertian diatas adalah : suatu usaha pencitraan yang dilakukan oleh perseorangan atau kelompok, guna mempengaruhi, menghambat, membelokkan pilihan atau mencapai dukungan dari publik  dengan cara menempelkan maksud utama pada maksud yang lain supaya terhindar dari suatu sanksi. Dalam pengertian jalanan, saya artikan kampanye terselubung adalah perbuatan pengecut dan kotor dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh dukungan sekaligus lari dari hukuman.

Jika dikaitkan dengan tren iklan promosi daerah yang sedang marak, model kampanye seperti ini memiliki dua kefatalan utama yang tak bisa ditutupi, yakni :

1) Terindikasi Korupsi 

Modusnya menggunakan uang rakyat dengan kedok promosi daerah, namun  dalam tayangan tersebut akhirnya muncul figur pemimpin daerah incumbent yang akan turut bertarung dalam Pilkada. Bukankah menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi adalah perbuatan korupsi ? Nilai iklan TV di tayangan jam-jam prime time sangat luar biasa. Untuk iklan berdurasi 15 detik saja bisa mencapai puluhan juta sekali tayang. Artinya, semakin panjang durasi dan semakin sering iklan tersebut muncul, maka semakin besar pula biaya tayangnya. 

Lihatlah iklan dadakan bertajuk "Jakarta Update" yang dicurigai bertujuan "mengiklankan " keberhasilan-keberhasilan Foke. Nilainya mencapai milyaran rupiah. Nilai tersebut nampaknya digelontorkan dari anggaran berbagai dinas pemerintah daerah sesuai bahasan tayangan. Celakanya, kecurigaan itu menjadi nyata manakala "Jakarta Update" mendadak raib dari layar kaca seiring dengan terjungkalnya Foke dalam pertarungan.

Ahmad Heryawan ( Aher ) Gubernur Jawa Barat yang belakangan ini getol  nongol di TV, menolak apa yang dilakukannya sebagai kampanye terselubung.

“Iklan itu secara hukum sah, dibiayai APBD dan itu mengiklankan Jabar. Bukan gubernur yang diiklankan, tapi gubernur yang ngomong,” ujar Heryawan  ( http://www.sorotnewsjabar.com/2012/politik/iklannya-makin-sering-muncul-aher-sangkal-kampanye-terselubung.html )

Well , boleh saja dia menolak anggapan tersebut, tapi point yang dicatat, Aher telah menegaskan sendiri bahwa iklan tersebut dibiayai rakyat lewat APBD ! Jika benar iklan tersebut untuk Jawa Barat, masih ada yang lebih pantas menjadi gong pembicara, yakni Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan atau Kadin-Kadin lain yang jelas-jelas tak terkait jabatan politik. Budayawan, artis atau selebritispun rasanya masih cocok tampil di iklan tersebut tanpa harus ada Gubernur.

2) Mencuri Start Kampanye
Yang ini sepertinya tak perlu dijelaskan panjang lebar. Modus "tampil diri" baik di TV, di baliho-baliho kota, di spanduk atau di selebaran-selebaran dengan membawakan sebuah tema kebijakan pemerintah daerah, hanya bentuk akal-akalan incumbent untuk terus menerus meracuni masyarakat dengan perfomasi yang dimilikinya. Rasanya publik yang sekarang ini rata-rata berpendidikan tinggi, cukup bisa membedakan antara kampanye dan kerja tulus.

Budaya Maling

Kampanye terselubung jelas merupakan perbuatan yang bisa disamakan dengan kelakuan maling dan pengecut. Bahkan dikategorikan rampok karena menguras dan merampas hak-hak rakyat yang tersimpan dalam APBD. Budaya maling memang tidak pernah lepas dari sifat dan karakter politisi Indonesia sejak jaman orde baru. Budaya yang menjangkiti hampir semua fraksi partai di daerah maupun pusat. Demikian juga dengan jiwa pengecut yang tidak berani berlaga secara jantan tanpa curang. Apa yang ada di otak hanya kekuasaan. Untuk mempertahankan kekuasaan itulah berbagai cara haram dilakukan. Berbagai trik dan strategi dijalankan, baik terang-terangan maupun diam-diam untuk mengelabuhi rakyat. Sayangnya, mereka yang telah nyaman sebagai incumbent, sering menganggap taktiknya cukup jitu untuk membodohi masyarakat, hingga mereka tak sadar, bahwa dirinyalah yang justru sedang dianggap tolol oleh jutaan orang. ( 2/12/2012)


______________________________

D. Dhewanindra
Kontributor areapager.com
Penyuka Sejarah dan Kebudayaan
Kini tinggal di Depok, Jawa Barat
______________________________