Sepanjang sejarah Festival Film Indonesia, rasanya FFI 2012 kali ini tergolong makin parah kualitas penyelenggaraannya.
Mengamati siaran livenya di SCTV, hampir seluruh aspek dalam acara tersebut terkesan amatir dan seperti digarap oleh organizer kawinan . Sama sekali tak nampak keagungan dan kemeriahan sebuah acara penghargaan bergengsi. Celakanya, FFI 2012 justru diselenggarakan di Yogyakarta, sebuah kota yang dikenal sebagai kota seni budaya.
Stage FFI 2012 di Benteng Vredeburg terlampau sederhana dan tak memiliki effect-effect khusus. Tata cahaya yang digunakan tak jauh berbeda dengan lampu sorot pelabuhan tempo dulu. Tayangan screen di dinding, sangat mirip pemutaran film independent di kampus-kampus yang tak perlu keluar biaya apapun. Format tempat duduk tamu undangan yang berkelompok tapi terlihat semrawut. Namun yang paling mencolok adalah audio stage maupun on air yang memalukan sekaligus memuakkan untuk ukuran broadcast.
Tayangan FFI 2012 juga lebih mirip breaking news dari tempat kejadian perkara (terrorisme)seperti yang biasa dilakukan TV One atau Metro TV ketimbang siaran langsung sebuah perhelatan karya-karya seni (yang dalam produksinya berbiaya miliaran per film). Tak ada switch yang memindahkan tayangan dinding menjadi tampilan TV ( screen di dinding, di shoot polos begitu saja sebagai tampilan TV) , tak ada lighting standar yang membuat wajah para penampil nyaris seperti orang baru bangun tidur. Lusuh, kumal, berminyak dan tidak komersial (bahkan Slamet Rahardjo mengatakan "ini lampunya kurang bagus" saat membacakan penghargaan aktor). Tak ada sistem sound memadai untuk menaklukkan akustik benteng vredeburg, sehingga vokal dan music-musik apik yang ditampilkan kurang nyaman dinikmati.
Rupanya itu belum cukup. Semuanya masih perlu dilengkapi dengan kekacauan teknis kecil namun sebenarnya memalukan (seperti amplop pemenang yang ketinggalan menjelang dibacakan – dalam penghargaan sinematography, Happy Salma yang hampir nyosor saat menari dan masih banyak lagi. )
Menjelang berakhir semuanya memang mulai “agak” benar. Tapi jika melihat trailer iklan FFI 2012 yang digarap sangat kreatif dan spektakuler dalam versi Gatotkaca, rasanya njomplang sekali dengan kenyataan.
Selamat buat para pemenang
Mengamati siaran livenya di SCTV, hampir seluruh aspek dalam acara tersebut terkesan amatir dan seperti digarap oleh organizer kawinan . Sama sekali tak nampak keagungan dan kemeriahan sebuah acara penghargaan bergengsi. Celakanya, FFI 2012 justru diselenggarakan di Yogyakarta, sebuah kota yang dikenal sebagai kota seni budaya.
Stage FFI 2012 di Benteng Vredeburg terlampau sederhana dan tak memiliki effect-effect khusus. Tata cahaya yang digunakan tak jauh berbeda dengan lampu sorot pelabuhan tempo dulu. Tayangan screen di dinding, sangat mirip pemutaran film independent di kampus-kampus yang tak perlu keluar biaya apapun. Format tempat duduk tamu undangan yang berkelompok tapi terlihat semrawut. Namun yang paling mencolok adalah audio stage maupun on air yang memalukan sekaligus memuakkan untuk ukuran broadcast.
Tayangan FFI 2012 juga lebih mirip breaking news dari tempat kejadian perkara (terrorisme)seperti yang biasa dilakukan TV One atau Metro TV ketimbang siaran langsung sebuah perhelatan karya-karya seni (yang dalam produksinya berbiaya miliaran per film). Tak ada switch yang memindahkan tayangan dinding menjadi tampilan TV ( screen di dinding, di shoot polos begitu saja sebagai tampilan TV) , tak ada lighting standar yang membuat wajah para penampil nyaris seperti orang baru bangun tidur. Lusuh, kumal, berminyak dan tidak komersial (bahkan Slamet Rahardjo mengatakan "ini lampunya kurang bagus" saat membacakan penghargaan aktor). Tak ada sistem sound memadai untuk menaklukkan akustik benteng vredeburg, sehingga vokal dan music-musik apik yang ditampilkan kurang nyaman dinikmati.
Rupanya itu belum cukup. Semuanya masih perlu dilengkapi dengan kekacauan teknis kecil namun sebenarnya memalukan (seperti amplop pemenang yang ketinggalan menjelang dibacakan – dalam penghargaan sinematography, Happy Salma yang hampir nyosor saat menari dan masih banyak lagi. )
Menjelang berakhir semuanya memang mulai “agak” benar. Tapi jika melihat trailer iklan FFI 2012 yang digarap sangat kreatif dan spektakuler dalam versi Gatotkaca, rasanya njomplang sekali dengan kenyataan.
Selamat buat para pemenang
Volunteer : Mahkota "mako" Prasasty


