TONTON DI YOUTUBE













Perbincangan Dengan Seorang Atheis

Sudah lebih dari seminggu dia tinggal di rumah ini, rumah kos yang aku tempati, Hatertseweg 95. Dia berasal dari Perancis, tepatnya kota Lyon. Namanya? Aku tak tahu pasti bagaimana menuliskan. Ketika kutanya, kalau tak salah ia menyebut Pierre, yang segera mengingatkanku pada nama Pierre Tendean, ajudan AH Nasution yang ikut terbunuh dalam peristiwa G30S 1965. "Panggil aku Pyok" katanya, mengatakan bahwa itu panggilannya. Keduanya, nama-nama itu, bisa jadi salah semua dalam ku menuliskannya. Tapi tak perlulah mempersoalkan terlalu jauh soal nama. Ia, Pierre atau Pyok itu, adalah mahasiswa PhD dalam bidang ilmu Geografi. Kedatangannya di Nijmegen ini adalah untuk studi lapangan. Sepengamatanku dari ceritanya, ia banyak pergi ke berbagai kota di Belanda untuk melakukan wawancara. 
Umurnya masih muda, duapuluh lima tahun, setidaknya dibandingkan dengan diriku, ia lebih muda sebelas tahun. Pertemuan kami biasanya terjadi di malam hari ketika ia sedang memasak. Kamarku ada di seberang dapur, sehingga ia sering terlihat olehku. Kadang aku ikut bergabung menemaninya memasak sepulang dari kampus. Pernah pula ia mengetuk pintu mengajakku makan malam: makan pasta buatannya. Ia tinggal di lantai di bawahku, sehingga hanya di dapur sajalah kami kerap bertemu dalam seminggu lebih ini. Beberapa hari lalu, selesai menyantap pasta buatannya, kami merokok bersama di luar. Untuk itu kami harus turun ke lantai bawah, menuruni tangga kayu yang curam rumah tua ini. Dan malam ini aku ajak dia pula untuk keluar untuk merokok. Ku tahu ia baru saja selesai makan dengan spaghetti-nya dan aku selesai menghabiskan sup yang kubuat dua hari lalu.

Di depan rumah, di tengah hawa dingin winter tak bersalju, terlintas di pikiranku untuk bertanya apakah ia ada beragama. Pertanyaan ini kuajukan, karena aku teringat akan seorang Perancis yang kukenal yang pula seorang atheist. Dan bagi orang dari bangsa yang relijius sepertiku, dimana keberagamaan sudah menjadi semacam kewajiban, perjumpaan dengan seorang atheist adalah kelangkaan.  Atas pertanyaanku, Ia menjawab bahwa ia pernah beragama ketika kecil. Kristen Protestant. Tapi pada umur 18, ia memutuskan untuk menjadi seorang atheist, keputusan yang dilandasi akan pandangan materialistik yang diyakininya. Padaku ia berkata, bahwa ia menghormati orang yang beragama, dan ia pula bukan seorang atheist yang kurang kerjaan untuk menganjurkan orang lain untuk sepertinya.

Prinsipnya itu, yanga dalah prinsip toleransi dalam keberagamaan, bukan sesuatu yang menarik dan baru benar bagi perhatianku, karena hal itu sudah menjadi prinsip hak asasi manusia yang pula kuyakini. Namun yang menjadi ketertarikanku adalah bagaimana ia mengubah mindset yang sekian lama pernah ada di benaknya bahwa Tuhan memang benar-benar eksis? Kukatakan padanya, memberikan contoh, bahwa manusia seringkali ada dihadapkan pada situasi dimana dia berada dalam situasi yang sulit. Dan orang yang beragama, bertuhan sepertiku biasanya akan mencari pertolongan, berdoa pada Tuhan ketika persoalan yang dihadapi itu tak lagi dapat dipecahkan. Ia menjawab, bahwa ia tak pernah berdoa dalam keadaan seperti itu.

Mengapa menjadi atheist? Atas pertanyaanku ini ia menjawab bahwa ketika orang bertuhan, maka orang menyerahkan diri, submitting dirinya pada sesuatu dari luar yang mendominasi. Hal ini, jelasnya, akan membuat orang terdidik untuk menerima dominasi pula pada manusia lain, sesuatu yang ia tak merasa cocok. Agama, ia akui, ada mengandung sisi positif dan negatif. Ia mencontohkan bahwa ketika ayahnya di usianya yang 55 tahun dan sakit-sakitan dan depresi (beberapa hari sebelumnya ia menjelaskan kalau ayahnya berpindah kerja karena iming-iming kesejahteraan yang bagus, tapi dalam sekian bulan sang ayah harus kehilangan pekerjaan karena diberhentikan dengan alasan perusahaan tak lagi membutuhkannya, putusan yang membuatnya menganggur dan berada dalam jurang depresi), kini bergabung dalam komunitas agama dan itu membuat sang ayah menunjukkan perkembangan yang positif. Ketika beragama, maka orang akan berkomunitas, dan itu ada sisi baiknya, demikian kukira apa yang ia sampaikan. Adapun sisi buruknya, jelasnya, adalah ketika orang beragama, orang akan mendominasi orang lain pula. Orang menjadi ganas terhadap orang lain, menjadi tuhan bagi manusia lain. Demi mendengar ini, aku menjadi teringat akan berbagai aksi pemaksaan keyakinan yang sering terjadi di tanah air. Tapi hal ini tak aku lontarkan padanya.

Dua batang rokok ia habiskan, rokok yang ia linting sendiri. Aku sendiri habis satu batang Dji Sam Soe yang kuhisap dengan kecepatan tinggi. Kami membicarakan beberapa hal lain seperti kemajuan disertasi yang telah aku capai, mengenai nama-nama pengarang dan filsuf Perancis yang aku tahu seperti Rene Descartes, Jean Paul Sartre, dan tentu saja Albert Camus. Sekaligus darinya aku belajar bagaimana mengucapkan nama-nama itu dengan benar. Ingin sebenarnya merokok lebih lama lagi, menyalakan satu sigaret lagi untuk berbicara lebih banyak. Tapi hawa dingin, rasa lelah di tubuh, serta keinginannya untuk menyaksikan debat kampanye pemilu di Perancis memaksa kami untuk kembali masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamar kami masing-masing.


_____________________________________

Manunggal K Wardaya
PhD Researcher Radboud University Nijmegen
Kolektor dan Pemerhati Musik Indonesia
Kini tinggal di Nijmegen, Belanda
manunggal.wardaya@gmail.com
_____________________________________