Meski telah menonton pada pemutaran pertama, tapi baru hari ketiga ini saya sempat menuliskan catatan-catan terkait film yang " dibekingi " Alex Nurdin sang Gubernur Sumatera Selatan. Antusiasme saya makin besar setelah menonton Behind The Scene Gending Sriwijaya di SCTV. Dalam video tersebut, nampak sekali heroisme para crew belakang layar dalam menyukseskan produksi film epic yang tak ada lagi di perfilman Indonesia.
Hampir saja kehabisan tiket, namun rejeki memang tidak kemana. Posisi saya di tengah persis, hingga dapat memantau audio maupun visual yang disajikan film berdurasi sekita 2 jam 30 menitan ini. Saya memang tidak pernah melewatkan garapan-garapan yang ditangani Hanung langsung. Bukan karena saya pernah berdarah-darah di teater atau film di Jogja (seperti Hanung), tapi lebih dari itu. Hanung, meski almamater akademiknya Jakarta, namun mode penyutradaraannya "sangat Jogja ". Dalang audio visual yang pondasi penyutradaraannya dibangun di Jogja, sudah pasti punya karakteristik khusus yang tak bisa dihapus hanya karena ganti komunitas.
Kali ini saya hanya sempat menuliskan catatan saya hanya dalam sudut pandang pemeranan semata. Itupun tidak semua. Saya hanya akan membahas yang berkesan saja. Maklum, deadline pekerjaan saya sedang numpuk.Mudah-mudahan saya akan segera bisa menulis dari sisi departemen yang lain.
Scene dibuka dengan simbolisasi kemelaratan rakyat yang makan daging tikus dan penindasan pajak. Perkenalan gerombolan underground Ki Goblek ( Mathias Muchus) dimulai dari sini. Sabri (Anwar Fuadi) yang di dapuk mewakili otoritasi penguasa, di jebol jantungnya oleh Ki Goblek sebagai simbolisasi perlawanan kaum miskin.
Anwar Fuadi tak perlu diragukan lagi kualitas ke-antagonisan-nya. Lagak dan laku kesehariannya memang sudah demikian. Karena itu setumpuk film maupun sinetron yang melibatkannya, selalu mendudukkan aktor asli Sumatera ini sebagai Destroyer.
Yang menyita saya di awal-awal cerita justru bukan akting Mathias Muchus, tapi rambut dan janggut jadi-jadian yang dikenakannya. Padahal kepala botaknya sudah sangat realistis. Simple saja. Rambut dan janggut tersebut nampak tidak tertanam di kulit, tapi menempel. Dulu, sewaktu menggarap sejumlah pertunjukan teater atau video. Kami sering bekerjasama dengan kawan-kawan seni rupa untuk mendapatkan make over yang realistis. Teknik ini pada dasarnya sudah umum. Metode pembuatan rambut, kumis atau janggut kala itu memang di tanam pada lateks karet, bukannya malah ditempelkan. Akibat hal sepele ini, saya jadi lebih sering memperhatikan masalah rambut-rambutan di film ini daripada aktingnya. Pengalaman ini senada seperti ketika saya menonton film Sang Pencerah yang sungguh mencerahkan itu.
Peran Zaskia Adya Mecca sebagai penemu para aktor aktris dalam sejumlah film Hanung, tidak bisa dilepaskan. Harus diakui Zaskia punya talenta sekian tingkat lebih bagus daripada kemampuan aktingnya. Ini saya akui sejak dia terlibat dalam Sang Pencerah sebagai Casting Director. Hampir semua talent dalam Gending Sriwijaya cocok sesuai penokohan. Akting Mathias Muchus yang sudah karatan di dunia pemeranan tak perlu dibahas lagi. Final ! Satu hal yang terus terngingang hingga pulang adalah olah tubuhnya yang mumpuni sebagai Ki Goblek. Caranya melangkah dan menghela nafas sungguh apik. Tadinya saya menyangka sosoknya terlampau perwira sebagai kepala gerombolan pemberontak yang hidup di hutan, harusnya lebih begajulan. Namun prasangka buruk saya ini lunas terbayar setelah mengetahui Ki Goblek ternyata bekas Jenderal Kedatuan yang digulung penguasa. Sekali lagi salut pada Zaskia yang telah menempatkan Mathias Muchus sebagai Ki Goblek.
Penokohan kedua yang saya perhatikan adalah Otig Pakis yang berperan sebagai Tabib Kedatuan. Bukan karena saya suka berdiskusi dan numpang ngopi di kediamannya di Khasmir (Khayangan Sangat Miring) kompleks Bengkel Teater Rhendra, bukan pula karena sama-sama pecinta CB 100, tapi karena beliau terlihat mulus menahan sense teaternya. Aktor teater memang paling berbahaya jika berperan di media layar. Kebanyakan mereka tak mampu menahan dorongan ekspresi panggung sehingga nampak berlebihan ketika berada di wilayah media rekam. Namun Otig Pakis khatam mengerem emosi. Sebagai tokoh yang dicitrakan bijak dan netral, Otig lebih memilih mengedepankan inner ketimbang ekspresi tubuh. Suatu pilihan yang cerdas. Dalam sejumlah frame, terus terang saya cukup terpukau dengan tatapan-tatapan matanya yang lihai berbicara banyak, ketimbang dialog yang di jatahkan. Setidaknya bagi saya, aura karakter tokoh yang ingin ditampilkan menjadi terasa betul. Saya berharap Otig Pakis mempertahankan teknik ini sehingga nantinya lebih punya sejumlah kans menempati posisi-posisi yang biasa diperankan Slamet Rahardjo atau Deddy Mizwar.
Julia Perez (Malini) nampaknya juga perlu saya bahas. Meski perannya bisa digantikan oleh aktris lain, tapi sebagai sebuah test case boleh juga. Si pemilik dada ekstreem ini cukup berhasil dicangkok oleh Hanung sehingga memiliki kemampuan pemeranan yang lebih berisi sebagai pemula. Sepanjang film, sudah dapat dibaca bahwa Jupe mau bekerja keras untuk itu. Lihat bagaimana dia berlari kencang tanpa alas kaki. Juga lihat bagaimana dia jungkir balik berkelahi.Tinggal bagaimana dia nantinya mengolah inner yang muncul sebagai ekspresi tulus dan tidak dibuat-buat. Saya pikir, keberhasilan Jupe juga tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Hanung. Sutradara yang baik adalah sutradara yang mampu mengubah imej seseorang menjadi wujud lain. Ke depan, Jupe rasanya memang harus mendapatkan sutradara-sutradara yang berbasic teater seperti Hanung. Dengan demikian dia akan mampu menguji kapasitasnya bukan hanya sebagai entertainer, bahkan jauh dari itu, yakni sebagai seniman.
Agus Kuncoro ( Awang Kencana) memang tempatnya di film-film seperti ini. Sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuan pemeranannya jika berperan dalam film bergenre epic. Keaktorannya sangat elastis dan fleksible jika ditempatkan sebagai tokoh antagonis maupun protagonis. Sayangnya, ini hanya berlaku dalam genre klasik karena saat berperan di genre realis, aktingnya menjadi terlihat terlalu berlebihan. Adegan yang paling saya suka adalah ketika Awang Kencana usai berlatih dengan mata tertutup. Kala itu dia ditemui oleh Purnama Kelana dan Dang Wangi. Kontur tubuh aktor yang pernah bermain di Saur Sepuh ini begitu spontan mengikuti pengucapannya. Adegan yang lain adalah ketika dirinya muncul secara tiba-tiba menemui Tabib Kedatuan yang hendak melarikan diri. Posisi berdiri dan temuan ekspresinya seperti membalikkan tradisi pelakon jahat yang banyak muncul di film-film Indonesia adopsi cerita India. Agus Kuncuro cemerlang dan penuh eksplorasi dalam membawakan tokoh Awang Kencana yang antagonis. Encer !
Sahrul Gunawan ( Purnama Kelana ) dari sisi figur fisik sangat pas memerankan tokoh yang berada dalam tanggung jawabnya. Namun saya tidak menemukan hal yang istimewa dari aktingnya. Biasa saja. Melihat dia bermain di film ini sama seperti melihat dia bermain di sinetron TV kebanyakan. Ekspresi dan olah tubuhnya kurang tereksplorasi. Sahrul agaknya kurang berusaha menemukan bentuk-bentuk baru dalam pemeranan yang sesungguhnya maha luas. Meski tidak mengecewakan, namun saya berharap dia mampu lebih total dalam menceburkan diri di dunia keaktoran. Saya melihat banyak sekali scene yang seharusnya bisa dia gali gagasan ekspresinya. Tidak bermaksud membandingkan dengan pencarian bentuk ala Agus Kuncoro, namun jika saja Sahrul terus menerus mengasah kemampuan aktingnya, maka scene-scene bersama Awang Kencana tentu bisa lebih hidup (alias tik tok) dan melekat di kepala hingga dibawa pulang oleh penonton .
Secara umum, film ini dari sisi pemeranan, telah menempatkan para jawara-jawara dibidangnya. Kecuali Jupe, Hanung agaknya tak perlu bersusah payah membangkitkan keaktoran para pemerannya. Tengok saja ada Slamet Rahardjo, Jajang C Noer dan Goeteng yang sungguh sudah lama sekali berkiprah di dunia seni peran. Dukungan ilustrasi musik yang digarap oleh Jadug Ferianto betul-betul membangun suasana dari awal hingga akhir. Tadinya saya pikir musik akan digarap oleh Tya Subyakto seperti dalam film Sang Pencerah. Pikiran ini membuat saya agak ngeri sendiri mengingat Tya cenderung banyak bermain string. Apa jadinya jika dia diturunkan untuk Gending Sriwijaya yang (saya bayangkan) lebih pas jika menggunakan unsur perkusif. Beruntung Juragan Kelompok Sinten Remen-lah pengawalnya. Mistisme dan ritmisisasi Jadug mampu melekat erat di tiap struktur pengadeganan.
Lain hari, saya akan menuliskan tentang hal lain dalam Gending Sriwijaya.
______________________________
D. Dhewanindra
Kontributor areapager.com
Penyuka Sejarah dan Kebudayaan
Kini tinggal di Depok, Jawa Barat
______________________________


