TONTON DI YOUTUBE













Tentang Film Indonesia


Sebuah paket program televisi yang menjadi favorit kawan-kawan di komunitas Padepokan Gerilya adalah Program " Melawan Lupa " besutan Metro TV. Suatu kali program ini membahas tentang perkembangan perfilman Indonesia dengan menampilkan beberapa narasumber yang menurut kami cukup kompeten. 

Buat anda-anda sekalian yang ingin mengetahui lebih banyak tentang tema tersebut, silahkan baca script yang kami tulis ulang dari program tersebut. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan. Terima kasih kepada team kreatif " Melawan Lupa" yang telah menyajikan tayangan ini kepada khalayak ramai. 

****

Kedaulatan Indonesia baru saja diakui ketika Usmar Ismail merampungkan film 'THE LONG MARCH'. Film ini memotret kehidupan para tentara revolusi dengan segala persoalan hidup mereka. Meski sejak jaman Belanda sudah banyak film yang di produksi. 'THE LONG MARCH' dinyatakan sebagai film pertama Indonesia. Bahkan hari pertama syuting film ini, 30 maret 1950 di tetapkan sebagai hari kelahiran Film Indonesia.

Slamet Rahardjo (Aktor dan Sutradara Senior )
"Kapankah film Indonesia lahir ? Maka dia lahir bersamaan dengan lahirnya sebuah gagasan dari seorang bernama Usmar Ismail yang membuat film dengan kesadaran nasionalisme dia. Film adalah statment, film adalah kredo. Film yang dibuat dengan jalan pikiran Indonesia, bercerita tentang Indonesia, dan memberikan gambaran tentang pola pikir dan gaya hidup Indonesia, maka itulah film Indonesia".


Kelahiran film Indonesia di susul film film lainnya dengan berbagai tema. Pada dekade awal perfileman nasional, film film yang dibuat bertema perjuangan dan hiburan. Film 'Tiga Dara' karya Usmar Ismail adalah salah satunya. Meski sukses, film ini menuai banyak kritik. 

Slamet Rahardjo
"Usmar pun pada suatu saat membuat film hiburan 'Tiga Dara'. 'Tiga Dara' itu box office. Usmar sedikit berkompromi dengan pasar. Tetapi sebetulnya juga  tidak harus di kritik, maka ketika Usmar membuat 'Tiga Dara'  dia pun cerdas, tepat dalam membuat analisa karena hiburannya laku".


Film film hiburan ala Indonesia terus berkembang, terutama sejak didirikannya Perserikatan Artis Indonesia atau PERSARI oleh Jamaludin Malik. Dari studio PERSARI ini lahir puluhan film hiburan.

Abduh Aziz  (Pengamat Film )
"Produksi lanjutannya selain Usmar, ada Jamaludin Malik yang  mulai dengan sadar memproduksi film film yang sifatnya hiburan. Kalau Usmar Ismail punya muatan, katakanlah muatan tertentu, soal nasionalisme dan kritik masyarakat. Jamaludin Malik dengan hiburannya. Nah, ini yang kemudian menemani perkembangan masyarakat Indonesia dari 50-an sampai seterusnya, ini yang kemudian membentuk masyarakat film Indonesia".

Slamet Rahardjo
"Jamaludin Malik menciptakan kesadaran baru tentang adanya sistem yang harus dibuat yaitu link. Link ekonomi, pendekatan ekonomi, menghitung bahwa orang masuk bioskop tidak hanya sekedar dalam pemikiran nasionalisme atau idealisme, tapi juga hiburan. Sebetulnya Usmar dan Jamal adalah merupakan tokoh yang saling mengisi, bukan yang satu lebih baik dari yang lain, bukan".

Pada dekade 50-an film adalah industri yang mendapat perhatian khusus pemerintah. Hubungan Presiden Soekarno dengan para sineas cukup erat. Sang Proklamator berulang kali mengingatkan para sineas untuk membuat film yang tak sekedar memenuhi selera pasar.

Radhar Panca Dahana (Budayawan)
"Pada masa-masa pra orde baru, sebenarnya ada kerjasama yang bagus antara politik dan perfilm-an. Karena pada waktu itu insan-insan perfileman memiliki pergaulan politik yang cukup luas. Sama dengan kesenian-kesenian yang lain, seperti seni rupa, seni sastra, seni tari itu punya pergaulan politik yang cukup luas karena memang Presidennya memiliki perhatian atau animo yang sangat kuat dengan kesenian".

Festival Film Indonesia pertama digelar di Jakarta tahun 1955. Festival ini menandai kejayaan film nasional dan dekade awal kelahirannya. Namun, euforia ini tak berlangsung lama, ketika partai komunis Indonesia mendominasi panggung politik dan kebudayaan, film nasional berangsur mundur.

Slamet Rahardjo
"Warna-warna politik mulai lahir ketika partai komunis sangat kuat. Sehingga seni untuk revolusi membuat film mulai menjadi film film yang istilahnya lebih kepada film propaganda".

Festival Film Indonesia tahun 1973 di Jakarta berlangsung begitu meriah. Ini adalah Festival Film pertama yang digelar setelah orde baru berkuasa, kemeriahan ini bukan tanpa syarat. Dua tahun sebelumnya sebuah pertemuan dengan para sineas di gagas pemerintah, pertemuan ini disebut untuk menyepakati standar mutu film nasional. Tapi sebenarnya orde baru menghendaki film dibawah kontrol kekuasaan. 

Radhar Panca Dahana 
"Melemahkan suara-suara yang bersifat alternatif. Nah, antara lain suara-suara yang kritis atau konstitusional itu muncul dari kesenian, sejak 70-an pertengahan itu cukup di tekan".

Pengkhianatan G30 SPKI adalah monumen kekuasaan orde baru dalam dunia perfileman. Film yang di sponsori oleh pemerintah ini dibuat untuk melegitimasi kekuasaan Presiden Soeharto.

Slamet Rahardjo 
"Ada rasa kegelisahan dalam hidup Arifin cuma satu, karena dia pernah membuat G30 SPKI. Dia juga bingung, sebab G30 SPKI itu sutradaranya banyak. Gak boleh ini, gak boleh itu. Itulah monumen dari sebuah kekuasaan otoriter yang membenarkan kebenarannya sendiri".

Radhar Panca Dahana
"Ketika film film yang bernada serius, dalam pengertian dia mencoba mengungkapkan dari realitas masyarakat sebagaimana adanya atau sebagaimana idealnya, itu selalu dan pasti mendapat tentangan dari orde baru. Ketika orang mengalami hambatan dalam mengekspresikan itu untuk dia tetap bertahan, hidup industri perfilemannya juga hidup sebagai sineas, lalu dia mengggarap tema-tema yang berbau politik. Setelah masa reformasi, saya kira mulai muncul film film yang alternatif."

Ditengah lesunya industri perfileman nasional tahun 1999 film 'Petualangan Sherina' berhasil mencuri perhatian publik. Film garapan sutradara muda Riri Reza ini sukses dari segi kualitas dan pemasaran.

Slamet Rahardjo 
"Sherina tiba-tiba dilihat, anak kecil ini luar biasa. Ketika anak-anak kecil yang menonton 'Petualangan Sherina', lalu mereka berkata 'ih kaya dikelas ya, ih kaya teman kita ya'. Nah, film-nya jadi laku kan mas".

Kesuksesan 'Petualangan Sherina' kemudian di ikuti oleh film film lain. 'Ada Apa Dengan Cinta' karya sutradara Rudy Sujarwo tahun 2001 adalah salah satunya.

Film nasional telah bangkit. Ratusan judul film nasional terus lahir dalam berbagai warna, ada yang sebagai industri yang mengapresiasi seni dan budaya seperti cita-cita Sang Proklamator, tapi tak sedikit juga yang hanya melayani pasar.

Abduh Aziz 
"Ini soal design. Persoalan film Indonesia tidak semata-mata cuma kita harapkan dari produksi film. Sebagai sebuah lingkungan, semuanya harus di tata. Ini yang saya sebut politik kebudayaan. Ada semacam skema investasi untuk mendukung film film yang punya muatan yang baik untuk pendidikan publik. Negara tidak punya skema itu, semuanya diserahkan pada pasar".

Radhar Panca Dahana
"Dalam situasi masyarakat kita yang setiap hari di hujani oleh persoalan politik, hukum, ekonomi, kriminalitas, dan lain-lain. Dalam saat seperti itu sebenarnya kesenian, termasuk seni perfileman bisa memberikan alternatif. Artinya memberikan satu cerita, atau gambar yang memberikan semacam orientasi, renungan, kontemplasi kepada publik dalam memahami realitas sekitar kita."

Slamet Rahardjo 
"Sjuman mengatakan hanya masyarakat bodoh yang doyan film bodoh. Mau jadi bodoh ? Jangan bikin film yang memperbodoh".