TONTON DI YOUTUBE













Sebuah Pengalaman Tentang Uje

 
Wafatnya Ustad Jefry yang biasa di panggil Uje memang sangat menghentak.  Menyaksikan berbagai siaran ulang dakwahnya di TV-TV seakan tak percaya bahwa tokoh yang usianya lebih tua sedikit dari saya itu begitu cepat di panggil Penciptanya.

Saya mungkin bukan siapa-siapa, tapi setidaknya punya sedikit pengalaman selama satu bulan mengamatinya secara dekat di sebuah paket program Ramadhan beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu Uje ( kalau tidak salah ) masih awal-awal berdakwah di dunia TV, sementara saya adalah salah satu "kuli" yang ditempatkan di bagian compugraphic dan bertugas di master control untuk untuk program siaran langsung Salam Sahur TV7 ( Sekarang Trans7).


Script selalu membuat Uje selalu muncul "cuma" dibagian akhir karena aspek industri yang serba kapitalis lebih menjual banyolan ketimbang menggali lebih dalam makna Ramadhan. Celakanya, kadang porsi banyolan hampir 99 persen sehingga Uje cuma dapat jatah masuk frame (sekali lagi) " cuma " untuk do'a penutup dan programpun lantas closing. 

Entah apa yang ada dalam benaknya dan bagaimana perasaannya saat itu, ketika porsi dakwah dan kehadiran ustad cuma dianggap formalitas agar terkesan ada kaitannya dengan Ramadhan. Kadang kala saya tangkap wajah kecewa di wajahnya. tapi kekecewaan itu selalu mudah tertutup oleh tebaran senyumnya,


Selamat jalan sahabat.
Berbagai unsur bangsa akan selalu mengenangmu.


Dionys Dhewanindra
Team Sutradara Padepokan Gerilya ( Pager ) Studio