TONTON DI YOUTUBE













Homade Video Mixer dan VTR - Merakit 10 Input Berbasis Sofware


Untuk kerja peliputan live yang menggunakan sistem multicamera, video mixer menjadi salah satu hal penting yang tak mungkin dihilangkan keberadaannya.  Alat ini di operasikan dari suatu tempat yang kemudian di sebut master control, pusat segala aktifitas pendokumentasian audio visual. Sayangnya alat ini masih cukup mahal. Yang murah-murah seperti Edirol V4 harganya berkisar 12 jutaan.  Belum lagi kita juga harus membeli VTR ( Video Recorder)  untuk merekam hasil switch (hasil programming). Iseng-iseng saya googling, tipe Sonny DSR 11 secondnya masih seharga 8 jutaan.  Tipe ini yang tanpa monitor lho. 

Sampai disitupun urusan masih belum selesai. Kita masih harus membeli perangkat komunikasi  antar crew yang biasa di sebut clear comm. Belum lagi kabelisasi. Waduuuhh .... berapa lagi biaya yang harus kita keluarkan ?

Terkait perangkat ini, saya akan sedikit sharing atas apa yang saya lakukan dengan dibantu beberapa kawan di Padepokan Gerilya ( Pager studio ).

KISAH AWAL

Bisa dikatakan saya cukup senang setelah berhasil merakit sebuah video mixer atau biasa disebut switcher berbasis  komputer.  Sekitar  6 atau 7  tahun yang lalu lalu sesungguhnya saya telah memulai proses ini. Namun kala itu teknologi komputer  belum seperti sekarang  dan masih cukup mahal sehingga hasil rakitannya kurang memuaskan.  Meski  berhasi melakukan switching ( lengkap dengan effect transisi gambar , mode title dll) processing sofware terlalu membebani  kerja hardware sehingga saat durasi penggunaan terlalu lama, komputer lama kelamaan semakin berat.

Karena putus asa, akhirnya saya memindahkan eksperiment tersebut pada rakitan lain, yakni membuat multi track recording audio.  Masih dengan basis komputer.  Alhamdulillah cukup berhasil sehingga  menghasilkan 4 track channel recording yang berhasil merekam secara simultan / bersamaan  sebuah event live musik. Untuk mencapai  channel lebih dari itu, saya menambahkannya dengan mixer analog dan melakukan grouping. ( Untuk teknik pembuatan multi track audio recording saya akan ceritakan jika ada kesempatan lagi. )

Setelah cukup lama tidak memikirkan lagi pembuatan video mixer ,  entah "malaikat apa dan darimana " yang mengingatkan kembali eksperiment yang tetunda tersebut.

Semula saya cuma duduk-duduk santai di gudang studio saya sambil ngopi-ngopi sekaligus smoki-smoki.  Pandangan mata tertumbuk pada beberapa motherboard nganggur  berikut komponen-komponen lain yang berserak.  Benda-benda tersebut  90 persen masih berfungsi jika di rakit kembali. Otak saya tiba-tiba cling ! HOMEMADE  VIDEO  MIXER ! Melakukan Pembuatan Video Mixer dan VTR Recording sendiri

Yah, selama ini untuk kepentingan live multicamera saya menggunakan switcher broadcast yang sewanya cukup lumayan. Mengapa tidak kembali mencoba membuatnya ? Toh ada beberapa project dokumentasi live multicamera Pager Studio yang kualitasnya tak harus broadcast standart. Mentok-mentok hasil akhirnya DVD atau file MPEG2. Lagian sekarang kapasitas processor dan komponen-komponen komputer  di Indonesia sudah mumpuni untuk  "dikawinkan " dengan sofware mixer nan ciamik.

Saya kemudian mengambil laptop dan bersemadi di gudang saat itu juga. Saya membuat sket-sket kebutuhan saya, juga menghitung biaya tambahan atas peralatan lain yang saya butuhkan, seperti membuat clear comm/interphone (atau apalah namanya) untuk komunikasi antar kameraman, kabel-kabel dan lain sebagainya.

Untuk gambar sketsa awal silahkan lihat di samping. Klik pada gambar untuk memperbesar.

 Setelah selesai membuat  deskripsi kasar, saya tidak langsung mengerjakan. Bukan apa, pertama, saya masih ada PR  10 buah musik sekaligus video klip lagu daerah yang  masuk deadline.  Saya tahu , eksperiment ini akan memakan waktu yang cukup lama. Mencari dan menemukan persoalan  ini itu tidak cukup satu dua hari saja.  Hal yang kedua adalah, saya masih harus perlu ke Glodok dan Mangga dua Jakarta kota untuk membeli beberapa komponen elektronik dan tetek bengeknya, padahal  studio saya cukup lumayan jaraknya dari sana.

Sebulan kemudian waktu itu datang. Dana juga sudah dalam genggaman. Ditemani seorang kawan, saya meluncur ke Jakarta kota. Riwa-riwi kesana kemari. Usai semua bahan terbeli, saya mulai bertapa.  Dibawah ini adalah langkah-langkah homemade video mixer dan VTR versi saya.



LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN 

Pertama :  Perakitan Video Mixer >  10  Video Input


Setelah membangun sebuah Interface  dengan spek Core i5 dengan RAM 16 gb dilengkapi VGA Nvidia  dualview, saya  menambahkan  2 input video di dalamnya.  Spek semacam ini untuk kebutuhan saya cukup perlu. Ini karena saya ada kalanya menggunakan file-file berformat HD untuk bumper atau logo animasi pada video live. Bahkan membuat sett studio interior 3 dimensi yang menjadi background live presenter layaknya host siaran berita televisi. Namun jika kebutuhannya tak sampai seperti itu, rasanya spek Core to Quad saja sudah lumayan cukup.

Untuk mengetes  kualitas gambar, saya sett 3 camera PD 177 dengan bentangan kabel Belden 20 meter  dikali 3 camera. Tak lupa saya gunakan sofware yang mampu melakukan proses rendering live .  Saya test lebih dahulu effect-effect transisi,  text/titling, chromachy live hingga penambahan sett  animasi,  Setelah hasil mixing  saya anggap cukup memuaskan, saya  mulai beranjak melakukan ekspansi channel input.  Kali ini saya merakit bar  khusus yang berisi 8 channel in dan 8 channel out analog/manual.  8 in dalam fungsi  switcher  (yang akan di koneksi ke interface komputer) dan 8 out  sebagai preview atau monitor untuk pemantau gambar camera mana yang akan dipilih.   Setelah selesai, saya kembali mengetestnya dengan bantuan sofware.

Kedua :  Perakitan VTR yang terhubung dengan Video Mixer via LAN

Ada tiga alasan mengapa saya buat  perangkat ini.
  • Meski sofware yang saya pakai mampu melakukan recording dan menyimpan data secara langsung di video mixer,  saya tidak  akan ambil resiko dengan membebani  kerja interfacenya  dengan banyak processing.  Saya banyak melihat beberapa eksperimen lain di internet yang menjadikan satu komputer sebagai  video mixer  sekaligus VTR untuk merekam hasil switch. Buat saya  itu terlalu spekulatif di tengah-tengah acara  live. Kalau komputer mendadak error gara-gara terlalu banyak beban,  bukankah akan hancur segalanya ?  So, agar aman saya buat piranti VTR yang terpisah dengan video mixer.
  • Dengan  VTR model jaringan, saya dapat menjaga kualitas hasil rekaman.  Itu karena  dari Video mixer ke VTR saya tidak lagi menggunakan kabel video yang sudah pasti mengalami penurunan kualitas gambar. Bayangkan, dari kamera ke mixer panjang kabel  bermeter-meter  sudah pasti hasilnya turun ( apalagi kalau pakai kabel composite/ RCA, belum lagi jika ada sambungan atau converternya ) . Lalu  masuk VTR  masih disambung kabel video lagi. Weleh. ! Kemungkinan gambar ground akan lebih besar. Malah bisa jadi shooting pakai camera DVcam PD 177 bisa-bisa hasilnya kayak pakai  MD 9000. Untuk itu saya masih percaya dengan sistem LAN.
  • Dengan penggunaan remote sofware, VTR tersebut akan merekam gambar yang tertayang  pada desktop  hasil mixingan sehingga kita bisa langsung lihat hasil rekamannya nanti seperti apa. lewat monitor VTR. Masalah-masalah seperti ground gambar atau audio yang yang tidak benar akan terpantau langsung.

Untuk  piranti VTR ini saya menggunakan spek  Dual Core dengan RAM 4  gb dilengkapi VGA Nvidia  dualview.  Untuk system saya pasang hardisk 40 Gb, sementara data  saya pasang hardisk eksternal 2 Terra. Setelah  jaringan saya  koneksi dengan piranti video mixer menggunakan remote sofware maupun remote desktop, saya lakukan test hasil. Setelah saya nyatakan cukup , saya mulai melaju ke langkah  selanjutnya.

Ketiga : Penambahan output VGA dan Output Video.

Kalau ini saya rasa cukup mudah. Kita tinggal beli VGA Splitter  dan kita sambungkan pada salah satu port  yang ada di interface. Bisa dipasang di out VGA Video Mixer atau ke VTR. Untuk ekspansi ini, saya menggunakan  1 in 4 out  VGA, sementara untuk Output Video saya menambahkan Converter  perubah sinyal VGA ke  RCA /Svideo. Piranti output ini rasanya perlu ditambahkan  agar hasil mixing video  selain direkam, bisa juga ditayangkan secara live pada proyektor atau TV (biasanya untuk kebutuhan misa , kebaktian atau pengajian  yang umatnya  membludak)  sehingga titik utama acara bisa disaksikan oleh banyak orang.

Keempat : Perakitan Clear Com / interphone / intercom  atau apalah namanya.

Dalam kerja multi camera , alat ini sangat penting dan rasanya harus ada.  Dengan alat ini, seluruh crew yang terlibat bisa saling berkomunikasi  melakukan koordinasi audio visual.  Karena keterbatasan biaya , untuk kebutuhan ini saya hanya memodifikasi   8 Headset  lengkap dengan microphonenya. Membuat box - box channel audio  bagi para cameraman yang kesemuanya terhubung ke pusat master control. Para ahli elektronika pasti sudah pakar dalam urusan merakit ini. So, tak perlu saya jelaskan panjang lebar.

Keempat :  Membuat Cassing peralatan

Oke, semua kebutuhan utama sudah berfungsi.  Tidak mungkin semua piranti tersebut telanjang  tanpa cassing.  Saya pun  membuat sketsa cassing dengan susunan alat sedemikian rupa.  Saya ingin membuat segalanya praktis  terbungkus  dalam satu box  khusus. Karena tidak memiliki peralatan membuat cassing, saya terpaksa pergi ke tukang bikin cassing. Saya serahkan deskripsi cassing dan dengan was wus, sang seniman cassing bekerja.

Okeh, semuanya sudah manis. Berfungsi dengan baik.

Syahdan, kini alat tersebut menemani kawan-kawan komunitas Padepokan Gerilya ( Pager Studio) dalam berbagai  liputan acara, mulai event musik, acara ibadah hingga kawinan tanpa perlu menyewa perangkat multicamera  ke rental video lagi.


Catatan - Catatan tambahan : 
  • Jika kabel yang anda pakai lumayan panjang ( lebih dari 10-15 meter) saya sarankan menambahkan perkuatan sinyal video. Untuk keperluan ini saya memakai video distributor 1 in 1 out untuk per channel camera.
MAAF KAMI TIDAK MELAYANI PEMBUATAN ALAT INI. BUAT ANDA YANG INGIN MEMBUATNYA, BEBERAPA TUTORIAL PENDUKUNG ADA DI YOUTUBE.
TERIMA KASIH