TONTON DI YOUTUBE













Di Balik Kisruh Film Soekarno Hanung Bramantyo


Kekisruhan, polemik atau apalah namanya yang terjadi antara Rachmawati Soekarnoputri dengan Hanung Bramantyo terkait film " Soekarno" , tidak terlalu mempengaruhi saya untuk " tidak menonton" film nasional yang kabarnya membangkitkan jiwa nasionalisme ini.  Yah, Nasionalisme, suatu paham yang nyata-nyata di tolak, dianggap kufur, sesat, racun mematikan serta serba busuk lainnya oleh sebuah ormas yang dengan santai  dibiarkan berkembang  menjadi pengkhianat bagi tanah airnya sendiri oleh pemerintahan SBY, menjadi pendurhaka bagi ibu pertiwi yang telah mengandung - membesarkannya dengan banyak pengorbanan darah dan air mata.

Kali ini saya tidak punya cukup waktu membahas film Soekarno dari segi teknis. Toh menilai film tidak wajib selalu melulu membicarakan aspek-aspek teknisnya semata. So, biarlah orang lain saja yang punya waktu cukup untuk melakukan dan  "mem-bawel-i" faktor ini. Saya lebih memilih menuliskan hal lain yang menurut saya menarik menjadi bahan refleksi kita semua.

Alasan utama saya harus menonton film ini adalah karena jalanan depan studio tempat saya biasa mengerjakan project-project audio visual sedang di cor oleh Pemda setempat . Akibatnya, saya , klien atau crew studio tak bisa mendapatkan akses masuk atau keluar selama tiga hari. Tiga hari, kawan ! meski jalanan tersebut ukurannya cuma beberapa meter.  Maklum, dikerjakan secara super santai agar dana yang ada "bisa dimainkan " sedemikian rupa. Urusan bisa ditebak, Pemda tidak sedang berbaik hati bagi warga RT/RW di lingkungan setempat, tetapi  hanya sekedar menghabiskan anggaran tutup tahun, terlebih menjelang pemerintahan baru 2014.

Saya pilih waktu dan lokasi senin, pukul 12.30 WIB di bioskop 21 Depok Town Square untuk mendapatkan suasana nyaman dan sepi penonton. Maksudnya adalah agar saya bisa berkonsentrasi lebih dalam pada film tersebut. Sebagai pekerja audio visual, otak saya  sering otomatis menilai sebuah karya film dari berbagai sisi penggarapan (utamanya dalam aspek yang terkait dengan pekerjaan saya : penyutradaraan, editting , visual effect dan musik ilustrasi) , untuk itu saya butuh atmosfer khusus. Tapi Masya Allah, saya meleset !  Justru saat itu antrian begitu membludak. Saya tak mendapatkan posisi kursi yang pas karena ternyata sejumlah kaum terpelajar telah memboking tempat duduk.  Saya pun pasrah sekaligus menyiapkan mental karena 75% dari mereka punya kans over apresiasi.  Saat pintu teater dibuka, dengan kekhasannya mereka masuk dan menduduki tempat duduk masing-masing.  Sebaliknya saya masuk dengan menggerutu dalam hati.

Cukup surprise juga ketika pada permulaan film, penonton diminta untuk berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya.  Sejenak penonton bertanya-tanya ini serius atau tidak, mereka bahkan tetap duduk di tempatnya sambil ongkang-ongkang kaki. Namun sepontan saya ambil inisiatif. Dengan teriakan lantang saya meminta seluruh penonton berdiri mengikuti text yang tertera pada layar. Semua penonton menoleh ke arah saya, tapi saya tidak peduli dan justru membalas tolehan mereka dengan teriakan merdeka !.  Alhamdulillah mereka akhirnya berdiri.  Lagu kebangsaanpun  berkumandang.  Saya lirik ke arah kelompok penonton terpelajar yang tadi  menggusarkan saya.  Ya Allah ! Saya mendadak bersalah. Dengan tubuh tegak gagah, telapak tangan  kanan silang menempel di dada sebelah kiri, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat. Meski baju putih dan celana pendek merah menunjukkan mereka masih seumur jagung  menikmati hidup di bumi pertiwi, tapi mereka  ternyata telah memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.  Memberikan penghormatan tulus bagi pengorbanan para pejuang yang telah melapangkan jalan bagi generasi penerus, untuk menikmati hidup tanpa todongan senjata dari bangsa asing.

Namun pemandangan itu sungguh berbanding terbalik dengan lirikan saya di sudut lain. Sepasang cowok cewek usia antara 20-25 tahunan malah tak peduli. Kaki mereka menggelosoh di kursi depannya bak rentenir menunggu setoran bunga pinjaman. Saya marah. Kalau saja jarak mereka berada dalam jangkauan, sudah pasti akan saya bentak. Tapi buru-buru saya menghibur diri. Siapa tahu leluhur mereka memang tak pernah ikut berjuang bagi bangsa ini, menjadi benalu, sekedar menumpang hidup atau malah pernah menjual bangsanya untuk kepentingan diri sendiri.

Anak-anak SD itu mungkin juga lebih mampu mengajarkan bahwa kepentingan bangsa lebih utama dari kepentingan pribadi. Keberadaan film Soekarno  untuk mengenalkan rasa dan dasar-dasar nasionalisme bagi generasi penerus, rasanya lebih penting dari sekedar gugat menggugat demi alasan pribadi yang aneh . Soekarno telah sepenuhnya menjadi milik bangsa, bukan cuma milik salah satu orang anaknya. 

Dibalik segala kekisruhan maupun polemik yang berkembang antara Rachmawati dan Hanung dkk, mulai dari friksi Anjasmara lebih pas memerankan Soekarno daripada Ario Bayu ( yang ternyata menurut saya : gestur, perawakan, penjiwaan, pencitraan, emosi dan tiap nada penegasan dialog Ario Bayu nyaris luar biasa mendekati Soekarno - maaf, saya tak bisa membayangkan jika Soekarno dalam film ini diperankan Anjasmara) , hingga masalah tuntutan hak cipta , anak-anak SD yang tadinya menurut saya bakal merusak kepentingan pribadi saya ( yakni : mengganggu suasana menonton) ternyata begitu mengajari banyak hal. Bukan hanya menunjukkan sikap hormat saat menghadap layar yang diibaratkan bendera merah putih, tetapi juga dengan seksama mengikuti alur cerita, bahkan  turut meledak kegembiraannya saat adegan proklamasi usai dibacakan dengan cara bertepuk tangan, berteriak merdeka sahut menyahut. Maka, apa yang diinginkan film ini, sedikit banyak tercapai.

Ditengah serangan masif dan dan terang-terangan dari mereka  yang menolak nasionalisme, menolak dasar negara dan terus berusaha menghancurkan pilar-pilar bangsa , bukankah lebih terhormat jika " kepentingan pribadi yang tak seberapa nilainya " itu dikorbankan untuk nilai yang lebih besar, yakni membuat generasi penerus "merasa memiliki Indonesia ".


_____________________________

D. Dhewanindra
Kontributor areapager.com
Pekerja sekaligus penonton film
Kini tinggal di Depok, Jawa Barat
______________________________