TONTON DI YOUTUBE













Kacau Balau Urusan LPG bin Elpiji dan Jungkir Baliknya Rakyat


Presiden Susio Bambang Yudhono memerintahkan Pertamina Kementrian terkait dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk meninjau kembali kenaikan harga LPG 12 kg. Keputusan ini disampaikan Presiden usai rapat terbatas yang di hadiri beberapa Menteri dan Direktur Utama Pertamina di Halim Perdana Kusuma Minggu sore, 5 Januari 2014.

Dalam rapat terbatas itu pun, Presiden SBY menegaskan kepada pihak-pihak terkait untuk segera mencari solusi dan jalan keluar atas polemik yang sedang berkembang di masyarakat saat ini.

“Saya meminta Pertamina, terutama kepada Menteri terkait yang di amanahkan oleh undang-undang untuk menyelesaikan peninjauan kembali dalam waktu satu hari (1 x 24) jam”.  Ujar SBY.

Pertamina sudah menaikan harga LPG 12 kg mulai 1 Januari 2014, berdasarkan rekomendasi BPK. Hasil temuan BPK, Pertamina telah merugi sekitar 7,7 trilyun rupiah, akibat harga Elpiji 12 kg yang terlalu rendah.

“Deadline kan sudah jelas kalau 1 x 24 jam, kalau tadi diputuskan sekitar jam 15.30 wib, berarti paling lambat besok Senin, 6 Januari 2014 pukul 15.30 wib harus sudah ada keputusannya. Jadi tunggu sajalah besok hari Senin”. Ungkap Ali Mundakir selaku Kepala Humas Pertamina.

Pertamina menaikan harga LPG 12 kg menjadi Rp. 3.959,. per kilogram. Rapat Senin pagi akan membahas solusi kenaikan LPG agar tidak membuat Pertamina merugi, namun tetap disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

Harga Elpiji non subsidi 12 kg yang sudah naik secara serentak di Indonesia per tanggal 1 Januari 2014 ini pun terus menuai polemik di masyarakat. Pertamina menaikkan harga LPG non sebsidi ini sekitar 68%, dari semula harga LPG 12 kg adalah Rp. 75.000,. dan sekarang mencapai Rp. 150.000,. per tabungnya. Kebijakan ini diambil lantaran Pertamina terus merugi. Selain menimbulkan gejolak di masyarakat, kenaikan harga LPG non subsidi kemasan 12 kg ini pun juga menimbulkan polemik di sejumlah kalangan.

Meski keputusan Pertamina untuk menaikkan atau menetapkan harga LPG non subsidi tanpa harus meminta persetujuan dari pemerintah, Menteri BUMN Dahlan Iskan siap menerima protes atas kenaikan LPG kepada dirinya. Sementara itu, Hatta Rajasa selaku Menteri Perekonomian berharap agar Pertamina mempertimbangkan dampak kenaikan LPG bagi masyarakat sebelum memutuskan harga.  

Dengan demikian permintaan gas LPG 3 kg pun meningkat, bahkan ongkos kirim antar pulau membuat harga tabung gas 3 kg ini melambung sampai Rp. 20.000,. per tabungnya. Seperti di kepulauan Sumenep, Jawa Timur, permintaan gas LPG 3 kg meningkat sejak dua hari yang lalu. Dalam satu hari agen LPG bisa mengirim sampai 200 tabung, lonjakan ini tentu saja meningkat hingga 100%. LPG tabung 12 kg mulai di tinggalkan warga karena kenaikan harga yang dinilai terlalulu tinggi, ditambah ongkos pengiriman harga tabung elpiji 12 kg bisa mencapai Rp. 160.000,. per tabung. Karena tingginya permintaan, harga LPG tabung 3 kg pun ikut naik. Sementara itu, selama ini pasokan LPG dari Pertamina untuk kepulauan Sumenep seluruhnya dikirim menggunakan perahu layar motor, karenanya pihak agen dan pedagang membebankan biaya pengiriman tabung gas LPG pada konsumen atau warga.

Akibat melambungnya harga elpiji, warga pun mulai jungkir balik putar otak. Salah satunya dengan  beralih ke sejumlah bahan bakar alternative, diantaranya kembali menggunakan arang kayu dan briket batu bara. Pedagang briket yang sempat kalah saing oleh gas elpiji pun kembali mendulang untung.

Di Jogjakarta aktifitas perdagangan sejumlah penyedia arang kayu dan briket kembali membara. Setelah usaha kecil ini sempat nyaris mati arang saat konversi bahan bakar ke gas marak berlangsung. Namun sejak awal pekan arang dan briket kembali laris oleh pembeli. Selain lebih terjamin dari segi kemanan, arang dan briket pun terbilang lebih mudah di dapat dan lebih murah jika dibandingkan dengan harga gas LPG yang sedang melambung saat ini. 

Briket adalah blok media padat untuk menyalakan api, umumnya berbahan batu bara. Bahan bakar alternatif ini populer sejak tahun 2008. Harga briket batu bara mulai Rp. 4.000,. per kilo-nya.   

Sementara itu, Pasca rapat konsultasi Pemerintah dan Badan Konsultasi Keuangan (BPK), akhirnya pada Senin sore, 6 Januari 2014, PT. Pertamina merevisi kenaikan harga LPG non subsidi 12 kg. Kenaikan LPG yang semula Rp. 3.959,. per kilogram dirubah menjadi Rp. 1.000,. per kilogram. Kenaikan akan berlaku per Selasa, 7 Januari 2014.

Pertamina menjamin harga LPG 12 kg akan mengikuti angka yang sudah di tentukan. Sedangkan untuk agen yang sudah terlanjur membeli dengan harga yang sebelumnya, harus menjual sesuai dengan harga baru yang sudah di tentukan meski harus merugikan mereka yakni menjadi Rp. 1.000,. per kilogram-nya atau sekitar Rp. 82.000,. per tabungnya.

Walau menaikan harga elpiji Rp. 1.000,. per kilogram-nya, Pertamina tetap akan merugi sekitar 5,4 trilyun rupiah di tahun 2014 dengan asumsi kurs dollar Rp. 10.500,. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengapresiasi langkah cepat PT. Pertamina, kementrian BUMN, dan BPK yang sudah menentukan harga LPG 12 kg bersama.