
Inilah wajah bioskop ambassador yang kemudian
berganti nama kusuma sebelum beralih menjadi NSC atau new kusuma
cineplex dan satu-satunya gedung bioskop yang masih bertahan di kota
jember hingga saat ini.
Dari gedung inilah saya banyak mengenal film-film jenis "indonesian action b movies(lowo ijo,langganan,panji tengkorak dll),sexploitation(film2nya eva arnaz campuran sex dan action),horor(suzzana),warkop,rhoma irama dan yang pasti bollywood(era amitabh bachan,mithun dan sanjay dutt).
Yang paling saya ingat dan menegangkan buat saya saat itu adalah ketika berdiri di depan loket saat antri membeli tiket(dulu loket berada di luar,kalau anda perhatikan foto,loket berada disamping kiri kotak kuning yang berisi jam pertunjukan film)mata saya terus tertuju pada sinyal lampu yang ada persis di belakang si penjual karcis yang terdiri 3 lampu untuk menandai slide(biasanya tampilan gambar sponsor dan iklan layanan masyarakat dari pemerintah),extra(kalau istilah sekarang trailer,saya juga bingung kenapa kok dibilang extra dulunya) dan main(film dimulai).Kalau lampu sudah menyala pada tanda extra,saya sudah merasa gelisah karena takut saya belum masuk ke dalam gedung,film sudah dimulai,dan buat saya itu sangat tidak mengenakkan sekali.
Untuk halaman depan bioskop biasanya mulai ramai pada saat pertunjukan jam ke 2.Pedagang asongan,calo tiket,tukang becak,tukang ojek bahkan tukang copet sudah mulai berdatangan karena mereka menunggu calon penonton jam ke 3 yang biasanya membludak.Apalagi kalau film yang diputar masuk kategori box office.Saur sepuh satria madangkara adalah salah satu contoh,dimana pernah terjadi konsentrasi massa di gedung bioskop ini.Jalan di depan bioskop macet total.Chaos terjadi di depan loket,bahkan untuk masuk ke dalam gedung kita harus berdesak-desakan seperti orang berebut sembako gratisan.Belum ditambah pengapnya suasana dalam gedung karena jumlah penonton melebihi kapasitas,bahkan ada yang rela sampai berdiri berjubel ditengah2 sub kursi dan jaman itu tidak ada AC,yang ada malah kepulan asap rokok dari bermacam-macam merk ditambah bau keringat para penonton yang kegerahan menahan panas.Namun suasana seperti inilah yang membuat saya kadang ada kerinduan dan merasa ada yang hilang dari aktifitas menonton bioskop di era jaman sekarang.
Semenjak bioskop dikuasai oleh cineplex yang dimotori oleh grup 21,banyak pengusaha bioskop lokal/tradisional gulung tikar termasuk kusuma.Entah berapa tahun kusuma terkatung-katung dan akhirnya berubah menjadi new kusuma cineplex.Kalau anda perhatikan dari tampak depan mungkin hanya tinggal kusuma dan metropole XXI jakarta di indonesia yang masih mempertahankan arsitektur gedung bioskop lama dan menurut saya ini adalah suatu hal yang layak untuk dibanggakan.
Semoga pemerintah kabupaten jember ke depan tetap
bisa mempertahankan gedung ini sebagai aset sejarah,mengingat sudah
banyak gedung-gedung kuno yang diruntuhkan untuk kepentingan yang lain.


