TONTON DI YOUTUBE













Senjata Majapahit ini Menggetarkan Dunia.







Indonesia sesungguhnya adalah bangsa yang " harusnya " menjadi adikuasa sejak dahulu kala. Bangsa besar yang mewarisi kewibawaaan nenek moyang dalam hal ekonomi, budaya, sosial, politik, hukum dan keamanan. Namun periode orde baru yang bercokol selama 32 tahun membuat nilai-nilai yang telah di turunkan para leluhur menjadi pelan-pelan hilang dan sebaliknya berubah menjadi bangsa penghamba. 




Aktor Di Balik Pengembangan Persenjataan

Seperti yang telah di tuliskan pada artkel KERIS  PALING SAKTI DI NUSANTARA baik di bagian satu maupun bagian dua, Majapahit benar-benar mengalami perkembangan teknologi persenjataan yang cukup pesat, terutama disaat Mahapatih Gajah Mada di beri kekuasaan sepenuhnya dalam mengendalikan angkatan bersenjata. Meski hanya berlatar belakang budak dusun, Gajah Mada memiliki kemampuan menyerap ilmu pengetahuan secara naluriah. Terutama sekali ketika secara tidak sengaja bertemu, mengenal dan berguru pada Brahmana Anuraga, alias Kuda Anjampiani, anak Adipati Tuban Ranggalawe, salah satu senopati Sanggramawijaya yang justru ditumpas karena fitnah.

Kemampuan menyerap dan menganalisa inilah yang kemudian banyak membantu Kopral Dipa ( Nama asli Gajah Mada ) yang kala itu berdinas di pusat kota, untuk mengenal kebudayaan, pengetahuan negara-negara, dan teknologi asing yang dibawa oleh para pendatang, terutama dari  para pengelana sekaligus pedagang Tiongkok. Salah satu pengetahuan yang paling digemarinya adalah tentang perakitan besi yang dikombinasi dengan mesiu. 
Kenaikan pangkat Dipa yang cukup  pesat karena prestasi menggulung banyak begal kebal senjata hanya bersama grup kecil ( 1 grup tentara berjumlah 9 orang),  membuatnya berhasil di tempatkan di Komando Pasukan Khusus dan kemudian Paspampres lapis terakhir di masa Jayanegara. Karirnya di pusat kekuasaan makin tak tertahan ketika berhasil menyelamatkan Presidennya itu dari pemberontakan Ra Kuti dan mengembalikannya lagi ke tahta dalam waktu singkat. 

Pada akhirnya Dipa secara penuh mendapatkan kepercayaan tunggal memimpin berbagai divisi dan batalyon Gula Kelapa ( nama Prajurit Majapahit) dari rezim penguasa, ketika berhasil membunuh Ra Tancha, dokter kepresiden Majapahit yang sebelumnya telah membunuh Jayanegara di tahun 1328.

Pengangkatan Tribuana Tunggadewi sebagai penguasa Majapahit ketiga, memuluskan niat Dipa (yang setelah bersumpah Palapa menggunakan nama Gajah Mada) mengembangkan teknologi persenjataan Majapahit seperti yang dicita-citakannya sejak masih berpangkat Kopral. 

Mitos Koalisi Politik Gajah Mada dan Pusat Kekuasaan Ketiga

Syahdan, menurut mitos, desas desus atau apalah namanya, kedekatan Dipa dengan Tribuwana Tunggadewi dan adiknya Dyah Wiyat sebenarnya sudah terjalin cukup lama, yakni ketika kereta kencana kedua putri tersebut melesat jauh tak terkontrol saat  blusukan ke desa-desa. Meninggalkan semua para pengawalnya sekaligus menjatuhkan kusir kaputren yang sedang bertugas. Dipa yang kala itu berusia belasan tahun sedang kelayapan tak tentu arah. Kehilangan jejak gurunya Brahmana Anuraga. Melihat kereta kencana ngacir tanpa awak dan di dalamnya ada dua gadis sedang panik, Dipa kemudian secara naluriah berdiri di tengah jalan, bertindak sebagai rem hidup. Jelas saja badan kurus keringnya tak bisa menahan benturan 4 kuda perkasa kerajaan. Tubuh Dipa jatuh terseret dan nyangkut pada tali kusir sejauh kiloan meter. Namun ajaran Anuraga tentang daya inti Cakram Manipura segera mengingatkannya. Susah payah Dipa berusaha berdiri dalam seretan transportasi eksklusif itu. Telapak dan jari kakinya gopal-gopal  tersandung batu. Ketika dalam posisi yang menguntungkan, Dipa sekuat tenaga menarik tali kusir, sementara kakinya sesekali mengerem, sesekali mengikuti arus lari kuda. Pada saat himpunan nafas sepenuhnya berada di perut, Dipa menghentakkan kaki mengerem total. Gelombang Cakram Manipura yang sama sekali belum pernah di praktekkannya ternyata berfungsi dahsyat. Leher keeempat kuda sontak tertoleh kebelakang, sementara kaki-kakinya berhenti mendadak. 

Itulah awal pertemuan Dipa dengan dua putri Sanggramawijaya. Sebagai timbal balik, Dipa diajak ke kotaraja, diberi pekerjaan di batalyon kuda Gula Kelapa sebagai pengurus kuda-kuda tempur . Namun jasanya tidak mudah di lupakan demikian saja. Secara berkala dua putri yang pernah di tolongnya itu  mengunjungi Dipa. Sayangnya kebiasaan ini membuat pimpinan batalyon tak enak  hati dan merasa risih. Kerja-kerja batalyon seakan selalu diawasi, selain itu rasanya tidak pantas putri Raja mengunjungi kandang-kandang kuda.. Dipa lantas di usulkan pindah ke komando distrik yang berada di pusat kota, dekat dengan kraton. Hem... bagian mitos ini terdengar nyaris seperti fiksi.  Ah..lewati saja, lupakan saja...



Dukungan Penguasa Dan Senjata yang Menggetarkan

Maka tak heran niat Dipa a.k.a Gajah Mada mengembangkan persenjataan mendapat support penuh dari Tribuwana Tunggadewi, baik perlindungan kebijakan maupun anggaran belanja. Laboratorium persenjataan dibuat. Profesor-profesor ( empu-empu) senjata di datangkan, baik lokal maupun internasional. Konsentrasi utama proyek adalah pengadaan alutista armada laut, yang kala itu Kepala Stafnya dipimpin oleh Mpu Nala, seorang insinyur muda spesialis kapal perang. 

Perkuatan senjata laut menjadi prioritas penting dalam rangka perwujudan misi Palapa, yakni memperluas daerah kekuasaan Majapahit hingga melintasi berbagai samudera. Tuban yang sejak Majapahit berdiri di jadikan pangkalan armada maritim, di kembangkan daerahnya menjadi kota pertahanan terdepan. Ribuan asrama marinir dibangun, gudang-gudang senjata  di dirikan, anak-anak muda mengikuti wajib militer.

Maka seiring eforia militer di saentro Majapahit, sebuah senjata berhasil di ciptakan. Gajah Mada membaptisnya dengan nama CETBANG. Secara bentuk, senjata ini bisa dikatakan meriam mini. Meski mesiu yang digunakannya bersifat low eksplosif, namun rancangannya yang dibuat portable  justru sangat berbahaya ketika digunakan dalam situasi yang membutuhkan pergerakan cepat., Fisiknya yang ramping membuat Cetbang mudah di pindahkan kesana kemari sesuai kebutuhan. Disamping mudah digunakan,  Cetbang memiliki daya bakar yang sangat tinggi. 

Untuk penempatan pada kapal perang, Cetbang yang digunakan berukuran panjang 3 meter, sementara untuk pertempuran darat, panjangnya hanya 1 meter. Sayangnya, kala itu pengadaan mesiu masih sangat mahal, maka untuk penghematan anggaran, Cetbang darat hanya di gunakan di saat genting saja. Pada pertempuran PRA jarak dekat, Majapahit masih mengandalkan pasukan panah, sebelum kemudian pedang dan tombak dimainkan peranannya.

Cetbang membuat hampir semua pasukan musuh menggigil membayangkan kematian yang akan datang. Beberapa daerah malah takluk demikian saja tanpa harus bertempur mengorbankan nyawa prajuritnya secara sia-sia. Maka tak heran serat Darmo Gandul mencatat bahwa senjata ini cukup mematikan.

… wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, … 

 yang kira-kira terjemahannya :

.... Pasukan Majapahit terus menembaki, sehingga pasukan Giri ( Demak ) banyak yang terkapar, tidak mampu menghadapi peluru yang berdatangan  ....


Tandingan Cetbang Majapahit adalah meriam buatan Tiongkok. Hal ini cukup bisa dimaklumi karena kekaisaran itu lebih maju dalam teknologi. Elemen mesiu yang digunakan sangat berkualitas. Namun demikian Majapahit tidak pernah gentar dalam pertempuran. Setelah Hayam Wuruk sebagai dinasti keempat Majapahit naik Tahta, Gajah Mada mulai serius dalam pertempuran taktik. Sejumlah ahli siasat di datangkan untuk menciptakan berbagai strategi pertempuran yang sulit di duga musuh.
Supit Urang, Cakra Manggilingan, Jaran Baris, Kala Jengking, Mamanah, dsb adalah karya-karya strategi perang yang cukup berhasil di medan laga.

Kemajuan persenjataan dan strategi Majapahit dalam mengobrak-abrik pertahanan musuh santer terdengar hingga Eropa. Spanyol dan Portugis yang saat itu memiliki pangkalan laut di Malaka tiada hari tanpa ketar ketir. Jika seluruh pulau Swarna Dwipa ( Sumatera ) berhasil di kuasai Majapahit, maka sudah jelas kerajaan super power tersebut akan menyerang Malaka. Buru-buru kedua bangsa ini mengirim utusan ke pemerintahannya masing-masing. Mereka meminta agar para bos-bosnya secepat mungkin mengupdate kembali teknologi senjata sebelum Majapahit menyerang. Kelak, persenjataan Eropa benar-benar maju dan berkualitas, namun Majapahit keburu runtuh akibat perang saudara dan serangan Demak yang bersamaan.

Menurut WILWATIKTA MUSEUM ONLINE yang dikelola oleh Deddy Endarto, kini peninggalan senjata api era Majapahit ini tersimpan di THE METROPOLITAN MUSEUM OF ART  1000 5th Avenue, New York, NY – USA.  Sedih ya ? Kenapa bisa di Amerika ? kok bisa jauh amat dari sejarah keberadaan Amerika di nusantara ?


****


SPESIFIKASI CETBANG

Period: Majapahit period (1296–1520)
Date: ca. 14th century
Culture: Indonesia (Java)
Medium: Bronze
Dimensions: L. 37 7/16 in. (95.2 cm)
Classification: Metalwork

Credit Line: Gift of Mr. and Mrs. Martin Lerner, in honor of Professor Samuel Eilenberg, 1986
Accession Number: 1986.503


Sumber Data Spesifikasi dan Gambar WILWATIKTA MUSEUM ONLINE