TONTON DI YOUTUBE













Norman Kamaru Kini Jual Bubur di Kalibata

Salah seorang anggota Brimob yang sempat meledak lewat video lipsink Caiya Caiya, kini mendadak diketahui menjadi seorang penjual bubur. Ini bukan film sinetron, tapi kehidupan Norman yang sesungguhnya, setelah dipecat dari kesatuan karena dianggap melanggar disiplin.

Pemecatan terhadap Norman dilakukan karena dianggap melanggar pasal 14 ayat 1 huruf a Peraturan Pemerintah RI No 1 tahun 2003 tentang pemberhentian anggota kepolisian negara RI. Norman dianggap disersi yakni selama 30 hari berturut-turut tidak masuk kerja. Hak-hak Norman dicabut semua sebagai anggota kepolisian. Pria asal Gorontalo itu juga tidak akan mendapat uang pensiun, apalagi tunjangan. Namun untungny, Norman tidak dibebankan biaya pengganti ikatan dinas. Alasannya, putusan pemberhentian tidak hormat sudah menjadi putusan berat tersendiri.

Bukan hanya itu, Norman tidak berhak lagi menyandang gelar Briptu, baik di kehidupan sehari-hari maupun saat di panggung. Jika ingin menggunakannya, maka dia harus izin terlebih dulu pada polisi agar tidak dituntut.

Setelah sempat moncer dan berada di gemerlap dunia panggung dan televisi untuk beberapa saat, Norman kemudian menghilang seiring meredupnya sinar kepopulerannya. Banyak yang menyesalkan Norman Kamaru hengkang dari kepolisian karena kehidupan entertainment dianggap tidak memiliki pendapatan tetap layaknya Polisi selaku aparat negara. Maklum, dunia keartisan adalah dunia yang cukup dahsyat persaingannya. Dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus untuk bisa bertahan lama di dunia hiburan tanah air, tidak sekedar kemampuan lipsync seperti yang telah dilakukan Norman.

Dalam suatu kesempatan, pengamat musik terkemuka, Bens Leo, pernah menyatakan, bahwa fenomena lipsync seperti yang dilakukan Norman cukup berbahaya dan menjadi ancaman bagi industri musik tanah air, karena  akan ada orang yang masuk ke industri musik tapi tidak mempunyai  kapabilitas dan kelanjutannya.

Norman Kamaru tiba-tiba saja kembali diberitakan di media massa dalam status yang lain. Bukan lagi sebagai selebritis, melainkan sebagai seorang penjual bubur di kawasan ower Herbras Kalibata City, Jakarta Selatan. Awak media menemuinya di sebuah warung dengan dominasi warna biru dengan ukuran yang mungkin seukuran kamar saja, yakni 3,5x4 meter persegi. Di situlah Norman kini menjual berbagai makanan dan minuman, terutama bubur Manado.

Norman memasak dan melayani sendiri pembelinya, lengkap dengan tatto dan anting yang dikenakannya sejak masih menjadi selebritis. Dalam foto yang diunggah oleh detik news, Norman juga terlihat semakin kurus dan berbeda dengan penampilan sebelumnya.

Situasi yang terlihat dalam photo sangat berbeda dengan saat dia  disambut dengan gegap gempita oleh masyarakat Gorontalo ketika pulang kampung. Bahkan kala itu, Norman diarak menggunakan kendaraan lapis baja dan dijaga ketat oleh sejumlah personil polisi. Tak ketinggalan beberapa ibu Bhayangkara menari tarian khas India seperti yang dilakukan Norman. Gubernurpun turut menyiapkan acara khusus untuknya.

Undangan mengisi hiburan yang terus membanjir membuat Norman seperti melupakan tanggung jawabnya sebagai personil Brimob. Hal ini membuat gerah atasannya.

Pada 8 September 2011, saat sedang berada dalam sessi pemotretan dan pengambilan video klip untuk lagu " Cinta Gila " ciptaan Farhat di Madratsah Aliyah Negeri (MAN) Kotamobagu, Norman di jemput langsung oleh Wakapolres Bolmong Kompol Heru Pramukarno bersama Kasat Intel AKP Tedi Pontoh yang tiba di lokasi. Norman dibawa ke Mako Polres Bolmong.

Kapolres Bolmong AKBP Enggar Brotoseno SIK mengatakan, pihaknya memperoleh informasi adanya kegiatan Briptu Norman di Kotamobagu dari warga dan langsung berkoordinasi dengan Kasat Brimob Polda Gorontalo AKBP Anang Supema. Dari hasil kordinasi itu, Kapolda Gorontalo memerintah dirinya melalaui Kasat Brimob agar Briptu Norman dikembalikan ke satuannya. "Soal izin Norman itu bukan kewenangan kami. Polres hanya diminta mengembalikan Norman ke kesatuannya," terang Enggar.

Norman, selain diamankan karena persoalan izin juga dinilai telah melecehkan sekolah agama. Karena dalam sesi pengambilan foto dan video clip Briptu Norman menggandeng model dari Tunisia yang berpakaian seksi, padahal lokasi foto dan syuting di dalam sekolah agama, yang sangat ketat akan norma-norma agama. Bahkan saat diliput, pihak manajer mencoba menghalangi wartawan dan nyaris merusak salah satu kamera milik Irgi Gilalom, fotografer Radar Totabuan. Bukan hanya itu, Norman setidaknya juga pernah ditangkap dua kali disaat show.

Kesal berkali-kali merasa di halangi dalam karirnya sebagai penyanyi, Norman mengaku tak masalah keluar dari kepolisian. Bahkan di sebuah media IbundaNorman, Halima Marthinus, menyatakan tak khawatir anaknya akan jatuh miskin jika keluar dari kepolisian dan tak laku jadi artis. "Enggak apa-apa. Kami masih bisa hidup. Kami punya usaha di Gorontalo dan punya warisan banyak," ujar Halima.

Semua pada akhirnya adalah pilihan. Mari kita hormati pilihan-pilihan yang diambil tiap manusia.